Denmark untuk pertama kalinya dalam sejarah terkini mengerahkan personel wajib militer ke Greenland. Langkah ini diambil salah satu negara anggota NATO tersebut guna memperkuat kehadiran militernya di tengah eskalasi geopolitik di kawasan Arktik dan tensi politik dengan sekutunya sendiri, Amerika Serikat (AS).
Penguatan postur pertahanan oleh Kopenhagen ini dipicu oleh pernyataan berulang Presiden AS Donald Trump yang menyatakan minatnya untuk mengakuisisi Greenland. Trump mengklaim penguasaan atas pulau semi-otonom kaya mineral itu merupakan bagian dari kepentingan keamanan nasional AS, sembari menuding Denmark tidak serius menjaga pertahanan kawasan Arktik. Baik pemerintah Denmark maupun otoritas Greenland telah secara tegas menolak tawaran akuisisi tersebut.
Memperkuat Pertahanan dan Latihan di Suhu Ekstrem
Menanggapi situasi tersebut, Kopenhagen berkomitmen mengucurkan anggaran miliaran dolar untuk membenahi pertahanan di Arktik. Langkah ini menyusul pengakuan dari Menteri Pertahanan Denmark mengenai minimnya investasi militer di kawasan tersebut selama bertahun-tahun.
Festival "Toleransi" Berubah Drastis, Warga Muslim Tak Terlibat Lagi

Pasukan yang dikirim ke Greenland merupakan angkatan pertama dari program wajib militer Denmark yang diperluas, yang disiapkan secara khusus untuk menjalankan operasi di iklim subkutub. Di sana, para tentara menjalani latihan bersandi Arctic Endurance untuk mengasah kemampuan bertempur dan bertahan hidup di medan berbatu gundul tanpa pepohonan di utara Lingkar Arktik.
Komandan Kompi Kapten Laura Jepsen menjelaskan bahwa fokus utama pengerahan ini adalah kelanjutan proses pendidikan militer. Peran pasukan di wilayah tersebut difokuskan untuk melanjutkan pelatihan bagi personel wajib militer serta menambah jam terbang prajurit dalam menghadapi iklim dan medan Arktik.
Kemenkeu Beralih ke Metode Base Money untuk Pantau Likuiditas Sistem Keuangan

Bagian Misi Arctic Sentry NATO
Latihan Arctic Endurance terintegrasi ke dalam Arctic Sentry, misi NATO yang resmi diluncurkan tahun ini demi mendongkrak kehadiran aliansi di kutub utara. Keberadaan misi ini sekaligus merespons dinamika internal aliansi pascakomentar Trump terkait status Greenland.
Meningkatnya aktivitas militer NATO di Arktik memicu reaksi keras dari Rusia, pemegang kekuatan militer terbesar di kawasan tersebut. Moskow mengecam langkah NATO dan menilainya sebagai ancaman keamanan langsung yang dapat memicu konfrontasi terbuka. Di sisi lain, China juga kian aktif memperluas pengaruh dan aktivitasnya di Arktik melalui kemitraan strategis dengan Rusia.






