Nilai tukar rupiah menguat tajam pada penutupan perdagangan Rabu (9/9/2026). Mengacu pada data Refinitiv, mata uang Garuda terapresiasi sebesar 0,71% dan parkir di posisi Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Capaian ini menandai level penutupan terkuat rupiah sejak 15 Mei 2026 atau dalam kurun hampir 17 pekan terakhir.
Pergerakan positif rupiah sudah terlihat sejak pembukaan pasar dengan kenaikan 0,31% ke level Rp17.570 per dolar AS. Penguatan berlanjut sepanjang hari dengan tambahan 70 poin hingga akhir perdagangan. Dalam transaksi intraday, rupiah bahkan sempat menyentuh titik terkuat hariannya di posisi Rp17.490 per dolar AS.
Laju rupiah terdorong oleh koreksi indeks dolar AS (DXY). Pada pukul 15.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia tersebut melemah 0,15% ke level 98,642. DXY juga sempat menyentuh posisi terendah harian di 98,630, yang merupakan titik terlemahnya dalam hampir tiga pekan.
Belum Bayar Obligasi & Sukuk, BEI Lanjut Suspensi Saham WIKA

Tekanan terhadap dolar AS terutama dipicu oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan berlanjutnya penguatan mata uang yen Jepang. Pelaku pasar hampir sepenuhnya memperhitungkan langkah Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan moneter pekan depan, di tengah penantian arah kebijakan The Federal Reserve.
Dari dalam negeri, apresiasi rupiah mendapatkan topangan dari data ekonomi yang solid. Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Agustus 2026 naik ke level 118,5, meningkat dibandingkan posisi Juli yang berada di angka 116,8. Angka realisasi tersebut juga melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan level 117.
Cegah Cuci Uang di Pasar Modal, PPATK dan KSEI Teken MoU Pertukaran Informasi

Penguatan keyakinan masyarakat ditopang oleh kenaikan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 109,4 dari 107,9 pada bulan sebelumnya. Selain itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat melonjak ke posisi 127,6 dari 125,7. Data BI turut mencatat adanya peningkatan rasio konsumsi terhadap pendapatan masyarakat menjadi 74,2% pada Agustus 2026, naik dari 72,7% pada bulan sebelumnya.






