Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk melanjutkan penghentian sementara atau suspensi perdagangan efek PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) di seluruh pasar. Langkah ini diambil otoritas bursa menyusul penundaan pembayaran sejumlah kewajiban pokok, bunga obligasi, hingga bagi hasil sukuk oleh emiten BUMN karya tersebut.
Keputusan perpanjangan suspensi tersebut tertuang dalam Pengumuman Bursa No. Peng-SPT-00018/BEI.PP2/09-2026 tertanggal 8 September 2026 mengenai Penghentian Sementara Perdagangan Efek PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Berdasarkan pengumuman tersebut, gembok perdagangan efek WIKA tetap diberlakukan sampai ada pengumuman bursa lebih lanjut.
Otoritas bursa mencermati bahwa WIKA menunda kewajiban pembayaran yang jatuh tempo pada 8 September 2026. Penundaan tersebut mencakup pembayaran pokok dan kupon pada beberapa instrumen surat utang yang diterbitkan perseroan pada 2021.
Restrukturisasi Utang Whoosh, Tenor Diperpanjang Jadi 80 Tahun dengan Cicilan Rp1 Triliun per Tahun

Secara terperinci, WIKA menunda pembayaran pokok untuk Seri B Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 (WIKA02BCN1) dan pokok Seri B Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 (SMWIKA02BCN1).
Selain pokok utang, perseroan belum membayarkan bunga ke-20 untuk Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 Seri B (WIKA02BCN1) dan Seri C. Pada instrumen syariah, WIKA turut menunda pembayaran pendapatan bagi hasil ke-20 untuk Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap I Tahun 2021 Seri B (SMWIKA02BCN1) dan Seri C (SMWIKA02CCN1).
Saham BBCA Tiba-tiba Anjlok 2% Lebih, Asing Net Sell Jumbo

Menurut penilaian BEI, kegagalan perseroan dalam memenuhi tenggat pembayaran kewajiban keuangan tersebut memberikan sinyal negatif terhadap operasional WIKA. Penundaan pembayaran tersebut dinilai mengindikasikan adanya permasalahan pada kelangsungan usaha perseroan.
Sebelum pengumuman lanjutan ini, saham WIKA telah berada dalam kondisi suspensi perdagangan dan posisinya masih terparkir di level harga Rp204 per lembar saham. Dengan posisi harga tersebut, nilai kapitalisasi pasar perseroan tercatat sebesar Rp8,13 triliun.






