Nilai tukar rupiah berada di level Rp17.611 per dolar AS pada perdagangan Jumat (11/9) sore. Mata uang Garuda tersebut tercatat melemah sebesar 64 poin atau 0,36 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan mata uang domestik ini juga sejalan dengan data kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), yang menempatkan rupiah di posisi Rp17.611 per dolar AS.
Sentimen Global dan Data Inflasi AS
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah pada penutupan perdagangan sore ini dipengaruhi oleh sentimen global. Kondisi pasar dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memanas serta kenaikan harga minyak dunia.
Ralph Lauren Sasaran Boikot Usai Jadikan Gal Gadot Modelnya

Selain itu, penguatan dolar AS di pasar global turut dipicu oleh indikator ekonomi Negeri Paman Sam. Indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS terpantau naik merespons rilis data inflasi produsen yang berada di atas perkiraan pasar.
Pergerakan Mata Uang Kawasan dan Global
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terhadap dolar AS terpantau bervariasi. Pelemahan dialami oleh baht Thailand yang turun 0,51 persen dan yen Jepang yang melemah 0,13 persen. Sementara itu, nilai tukar dolar Hong Kong terpantau stagnan.
Harga Minyak Melejit dan Ketegangan Global Tekan IHSG ke Posisi 6.541

Sebagian mata uang Asia lainnya berhasil mencatatkan penguatan. Peso Filipina memimpin penguatan dengan kenaikan 0,77 persen, diikuti oleh won Korea Selatan sebesar 0,32 persen, dolar Singapura sebesar 0,20 persen, dan yuan China yang naik 0,12 persen.
Kondisi serupa terlihat pada mata uang utama lainnya yang bergerak menguat terhadap dolar AS. Euro tercatat menguat 0,23 persen, franc Swiss menguat 0,18 persen, dolar Kanada menguat 0,18 persen, dolar Australia menguat 0,12 persen, dan poundsterling Inggris menguat tipis 0,03 persen.






