Pemerintah Indonesia terus mematangkan langkah strategis untuk mempercepat implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU CEPA). Melalui dialog penting bersama Delegasi Uni Eropa serta para Duta Besar Negara-Negara Anggota Uni Eropa, pemerintah berupaya memperkuat kerja sama bilateral dan memastikan percepatan pelaksanaan kesepakatan dagang tersebut. Apabila perjanjian ini mulai diimplementasikan pada awal tahun depan, Indonesia akan memperoleh akses pasar yang signifikan, dengan 90,4 persen pos tarif langsung menjadi nol persen dan 8,37 persen lainnya berkurang secara bertahap.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai bahwa IEU CEPA akan menjadi game changer yang sangat krusial. Keberadaan perjanjian ini diproyeksikan mampu memperkuat arus perdagangan dan investasi, mendorong diversifikasi rantai pasok, serta meningkatkan ketahanan ekonomi bilateral di kawasan ASEAN dan Indo-Pasifik. Urgensi akselerasi IEU CEPA juga semakin tinggi mengingat fasilitas Generalized Scheme of Preferences (GSP) yang selama ini dinikmati Indonesia akan segera berakhir pada pengujung tahun ini.
Pembebasan dan penurunan pos tarif melalui kemitraan dagang tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan serta meningkatkan kinerja ekspor berbagai produk andalan Indonesia ke pasar Eropa. Sektor-sektor yang diperkirakan akan merasakan dampak positif langsung antara lain komoditas kelapa sawit, produk alas kaki, kopi, furnitur, komoditas pertanian dan perikanan, hingga industri telekomunikasi. Terbukanya akses pasar ini diyakini akan memberikan dorongan kuat bagi penetrasi ekspor nasional.
KAI Bangun Hunian 24 Lantai di Manggarai, Harga di Bawah Rp600 Juta

Di sisi lain, Indonesia juga secara aktif mendorong masuknya investasi dari negara-negara Uni Eropa ke berbagai sektor industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri. Beberapa sektor prioritas yang disasar mencakup sektor manufaktur maju, energi terbarukan, ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV), teknologi digital, hingga sektor farmasi. Kolaborasi investasi ini diproyeksikan dapat memperkuat struktur industri nasional dan mendukung rantai pasok berkelanjutan.
Saat ini, proses finalisasi dokumentasi IEU CEPA dalam versi bahasa Inggris tengah diselesaikan dengan target penandatanganan kesepakatan resmi pada bulan Oktober mendatang. Setelah proses penandatanganan dilakukan, dokumen kesepakatan akan diajukan ke Parlemen Uni Eropa guna mendapatkan ratifikasi. Sementara itu, di tingkat domestik, Pemerintah Indonesia akan menggunakan mekanisme Peraturan Presiden (Perpres) setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sehingga proses implementasinya di tanah air dapat berjalan dengan lebih cepat.
BPI Danantara Targetkan Penyaluran KPR Rp200 Miliar per Bank BUMN di Housing Expo 2026

Langkah koordinasi diplomasi dan bisnis terus bergulir menyongsong implementasi perjanjian tersebut. Dalam komunikasi yang telah berlangsung, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Denis Chaibi turut terlibat aktif, di samping adanya agenda kunjungan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Uni Eropa Maros Sefcovic ke Indonesia yang dijadwalkan pada akhir Oktober atau awal November mendatang. Untuk memaksimalkan kesiapan dunia usaha, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) telah mengusulkan pembentukan Gugus Tugas Bersama (Joint Task Force) agar para pelaku bisnis dapat terlibat langsung dalam persiapan IEU CEPA, baik pada tingkat teknis maupun dalam kerangka bilateral bersama negara-negara anggota Uni Eropa.






