Pemerintah Indonesia tengah bersiap menjalankan program besar untuk membenahi kualitas buku pelajaran sekolah dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Langkah ini diambil demi memastikan bahan ajar yang diterima oleh para siswa memiliki mutu fisik dan isi yang layak. Inisiatif evaluasi ini muncul langsung dari perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto setelah melihat langsung kondisi buku di lapangan. Untuk memastikan standar kualitas yang lebih baik, pemerintah tidak hanya mengevaluasi secara internal, melainkan juga membandingkan buku pelajaran nasional dengan buku-buku dari berbagai negara tetangga di Asia Tenggara.
Mengapa pemerintah memutuskan untuk memperbaiki buku pelajaran SD hingga SMA saat ini?
Rencana pembaruan buku ajar ini bermula dari temuan langsung Presiden Prabowo Subianto saat melakukan kunjungan kerja ke sejumlah sekolah. Dalam kunjungan tersebut, Presiden secara personal memeriksa satu per satu buku pelajaran yang digunakan oleh para siswa. Hasil pemantauan langsung itu menunjukkan adanya beberapa masalah fisik yang cukup mengganggu proses belajar. Presiden mendapati bahwa bahan baku buku pelajaran yang digunakan saat ini cenderung mudah rusak, bahkan sebagian di antaranya sudah dalam kondisi rusak saat digunakan. Selain masalah ketahanan kertas dan jilid, ukuran huruf atau font yang tercetak di dalam buku juga dinilai terlalu kecil. Kondisi ukuran tulisan yang kecil ini memaksa anak-anak, khususnya siswa tingkat Sekolah Dasar (SD), harus membaca dalam jarak yang sangat dekat, yang berpotensi mengganggu kesehatan mata mereka. Berangkat dari temuan-temuan konkret inilah, pemerintah merasa perlu segera melakukan perbaikan menyeluruh pada buku-buku pelajaran sekolah.
Negara mana saja yang dijadikan pembanding untuk mengukur kualitas buku pelajaran Indonesia?
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Guna mendapatkan acuan standar kualitas yang objektif dan kompetitif, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya untuk membandingkan isi dan kualitas buku sekolah Indonesia dengan negara-negara tetangga. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ditunjuk langsung untuk mengawal proses perbandingan ini. Saat ini, contoh buku pelajaran dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara telah didatangkan ke Indonesia untuk dianalisis lebih lanjut. Negara-negara yang menjadi pembanding tersebut meliputi Malaysia, Kamboja, Thailand, Brunei Darussalam, Timor Leste, dan Vietnam. Analisis komparatif ini diharapkan dapat memberikan gambaran jelas mengenai perbedaan kualitas kertas, tata letak, ukuran tulisan, hingga bobot materi pelajaran yang diterapkan di wilayah regional.
Siapa saja yang terlibat dalam tim gabungan untuk melakukan perbandingan buku ini?
Proses evaluasi dan perbandingan buku pelajaran ini tidak dilakukan secara sepihak, melainkan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah telah membentuk tim gabungan khusus yang bertugas menganalisis buku-buku pembanding yang telah tiba dari negara-negara tetangga. Tim gabungan ini terdiri dari perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi; Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah; serta Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sinergi antar-kementerian dan lembaga ini bertujuan agar hasil evaluasi dapat mencakup seluruh aspek pendidikan, mulai dari tahap dasar hingga persiapan menuju pendidikan tinggi, serta selaras dengan rencana pembangunan nasional jangka panjang.
Apa saja dampak yang diharapkan dari program pembenahan mutu buku pelajaran ini?
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Melalui program ini, pemerintah menargetkan peningkatan standar fisik dan keterbacaan buku pelajaran di Indonesia. Dengan memperbaiki kualitas bahan agar tidak mudah rusak, buku pelajaran diharapkan memiliki masa pakai yang lebih lama dan tetap layak digunakan oleh siswa dari tahun ke tahun. Selain itu, penyesuaian ukuran huruf yang lebih ramah anak akan membantu siswa SD membaca dengan jarak yang aman dan nyaman, sehingga meminimalisasi kelelahan mata saat belajar. Secara tidak langsung, perbaikan ini diharapkan mampu meningkatkan minat baca dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang disajikan.
Bagaimana rencana pengembangan teknologi atau digitalisasi yang menyertai program ini?
Selain perbaikan fisik buku cetak, pemerintah juga mengkaji integrasi teknologi dalam penyebaran materi ajar di sekolah-sekolah. Salah satu ide yang muncul dalam pembahasan program ini adalah penyediaan buku pelajaran dalam format digital yang dapat dipindai (di-scan) dan diunduh secara mudah. Buku digital ini nantinya dirancang agar dapat terhubung langsung dengan perangkat layar pintar atau interactive flat panel yang dibagikan ke tiap-tiap sekolah. Dengan sistem ini, guru dan siswa dapat menampilkan serta berinteraksi dengan materi pelajaran secara digital di kelas, menciptakan suasana belajar-mengajar yang lebih interaktif, modern, dan merata di berbagai daerah.






