Kondisi pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (15/9), kini mulai beralih menuju tahap pemulihan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur bersama tujuh pemerintah kabupaten di Pulau Flores resmi mengakhiri masa tanggap darurat yang berjalan hampir satu bulan dan mulai berfokus pada normalisasi kehidupan warga.
Dalam masa transisi ini, relawan bantu pemulihan korban gempa NTT melalui berbagai aksi kemanusiaan di titik-titik pengungsian. Relawan dari PT Patra Jasa bersama Badan Dakwah Islam (BDI) Patra Jasa dan BAZMA Pertamina menyalurkan kebutuhan pokok, mendistribusikan pasokan air bersih, serta mendampingi anak-anak melalui program penyembuhan trauma.
Sherly Tjoanda Curhat di DPR Kena 'PHP' ATR/BPN Pimpinan Nusron Soal Lahan Reforma Agraria

Pj. VP Corporate Secretary PT Patra Jasa, Fadjar Djoko Santoso, mengonfirmasi bahwa logistik yang diserahkan meliputi seragam sekolah dasar, pakaian untuk guru, sarung, hingga set perlengkapan bermain anak. Dukungan ke wilayah NTT ini melanjutkan program sebelumnya, seperti penyediaan sarana belajar untuk Ruang Kelas Baru (RKB) PAUD di Pulau Mules.
Seiring menurunnya aktivitas seismik di Flores, jumlah warga yang berada di pengungsian tercatat menyusut menjadi 72.864 jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggeser konsentrasi penanganan ke perbaikan fisik hunian warga yang terdampak gempa.
Wamen ATR Buka Suara soal OTT KPK, Kami Hormati Proses Hukum

Guna meminimalkan risiko di masa depan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mendampingi pemerintah daerah di Flores dalam menyusun pemetaan mikrozonasi sekaligus memastikan proses rekonstruksi menerapkan standar bangunan tahan gempa.






