Bekas Panglima Angkatan Bersenjata Serbia Bosnia, Ratko Mladic, meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Den Haag, Belanda, pada Kamis (27/8). Terpidana kasus genosida dan kejahatan perang dalam pembantaian Srebrenica 1995 tersebut mengembuskan napas terakhir saat menjalani hukuman penjara seumur hidup.
Kabar berpulangnya Mladic dikonfirmasi pengadilan internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui laporan AFP. Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi kesehatan Mladic dilaporkan terus memburuk setelah mengalami beberapa kali serangan stroke. Permohonan pembebasan yang sebelumnya diajukan oleh pihak keluarga dan sejumlah pejabat Serbia atas dasar alasan medis sempat ditolak oleh pengadilan di Den Haag.
Mladic, yang dijuluki media sebagai "Butcher of Bosnia" atau Jagal Bosnia, merupakan figur militer sentral pada Perang Bosnia periode 1992–1995. Bersama mantan Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan mantan pemimpin Serbia Bosnia Radovan Karadzic, ia memimpin kampanye pembersihan etnis untuk mengusir warga Muslim Bosnia demi ambisi membentuk "Serbia Raya". Konflik berdarah tersebut menewaskan sekitar 100 ribu orang dan memaksa 2,2 juta warga lainnya mengungsi.
Anak Mantan Presiden Ditangkap, Terseret Kasus Korupsi Pembelian Pesawat Airbus

Salah satu kejahatan terbesarnya terjadi pada Juli 1995, ketika pasukan di bawah komandonya mengeksekusi sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia di Srebrenica—wilayah yang sebelumnya dinyatakan sebagai zona aman oleh PBB. Jenazah para korban dimasukkan ke berbagai kuburan massal, yang beberapa di antaranya sempat dibongkar dan dipindahkan kembali guna mengaburkan bukti kejahatan.
Pengadilan Pidana Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY) pertama kali mendakwa Mladic pada November 1995. Ia sempat melarikan diri dan buron selama 16 tahun sebelum berhasil ditangkap pada Mei 2011 menyusul runtuhnya kekuasaan Milosevic. Mladic kemudian dijatuhi vonis bersalah pada 2017, dan hukuman penjara seumur hidupnya dikuatkan pada tingkat banding pada 2021.
Polisi Tetapkan 1 Tersangka Ledakan Pipa Gas Grand Polonia Medan, 3 Orang Tewas

Reaksi atas kematian Mladic bermunculan dari berbagai pihak. Perwakilan asosiasi Mothers of Srebrenica, Sehida Abdurahmanovic, menyatakan bahwa kematian sang jenderal tidak akan pernah menghapus kejahatan genosida yang melekat pada namanya. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan solidaritas mendalam bagi para korban dan penyintas. Di sisi lain, mantan pemimpin Serbia Bosnia Milorad Dodik menyebut kabar duka ini sebagai pukulan telak bagi Republika Srpska, sementara pemerintah Rusia sempat melayangkan kritik terhadap proses pengadilan ICTY yang dinilainya bermuatan politis.






