Lapisan tanah dan debu di permukaan Bulan menyimpan rekaman penting mengenai sejarah ledakan dahsyat bintang raksasa di masa purba. Rahasia ledakan supernova kuno berusia puluhan juta tahun bersemayam di debu Bulan setelah tim peneliti berhasil mengungkap bagaimana isotop radioaktif antariksa terperangkap dan terdistribusi di dalam lapisan regolit.
Saat bintang masif meledak sebagai supernova, material puing radioaktif berkecepatan tinggi terlontar melintasi ruang angkasa hingga sebagian mencapai tata surya. Di Bumi, jejak debu radioaktif tersebut dapat terdeteksi pada sedimen laut dalam. Namun, proses geologis aktif seperti erosi, cuaca, dan pergerakan lempeng tektonik membatasi catatan sejarah di Bumi hanya bertahan hingga sekitar 10 juta tahun terakhir.
Kondisi Bulan yang hampa udara, tanpa cuaca dan tanpa aktivitas lempeng tektonik, memungkinkan permukaan satelit alami ini mengawetkan rekam jejak material supernova jauh lebih lama, yakni mencapai rentang 80 hingga 100 juta tahun bahkan lebih.
Dua Gempa Dangkal Guncang Flores, BMKG Catat 11.704 Susulan

Pemodelan Pencampuran Regolit
Kendati tidak mengalami erosi atmosferik, permukaan Bulan mengalami proses impact gardening, yaitu hantaman terus-menerus dari meteorit mikro hingga asteroid yang membalikkan serta mencampur lapisan regolit. Peristiwa ini sempat menyulitkan penentuan kronologi endapan debu kosmik.
Untuk memecahkan tantangan tersebut, tim peneliti yang dipimpin ilmuwan keplanetan Emily Costello dari University of Hawaii at Manoa mengembangkan model matematika baru. Model ini mengkalkulasi interaksi antara pencampuran regolit dan peluruhan radioaktif material bintang yang jatuh ke Bulan.
BMKG, Gempa M6,2 di Kepulauan Sandwich Selatan Tak Berpotensi Tsunami bagi Indonesia

Simulasi tersebut divalidasi menggunakan perbandingan data sedimen laut dalam Bumi serta analisis sampel tanah Bulan yang dibawa pulang oleh misi Apollo. Hasil pemodelan sukses memprediksi profil kedalaman dan konsentrasi unsur berat, termasuk isotop besi-60 (Iron-60).
Pengetahuan mengenai karakteristik debu Bulan ini menjadi referensi penting bagi ilmu keplanetan dan astronomi, sekaligus melengkapi pemahaman lingkungan Bulan di tengah persiapan uji ketahanan perangkat eksplorasi NASA menghadapi debu Bulan untuk misi Artemis.






