Kenaikan harga barang kebutuhan pokok hingga lonjakan tarif pangan siap saji memaksa para mahasiswa rantau menyusun ulang perhitungan keuangan mereka. Di tengah keterbatasan kiriman uang saku dan beasiswa, strategi penghematan ekstrem hingga mencari penghasilan tambahan menjadi jalan keluar agar kebutuhan harian tetap tercukupi.
Di Depok, Luthfan (19), mahasiswa perantau asal Banyumas, mengandalkan kedisiplinan mengelola beasiswa KIP Kuliah (KIPK) senilai Rp8,4 juta per semester atau setara rata-rata Rp1,4 juta per bulan. Untuk menambah pemasukan, ia aktif berinvestasi di pasar modal dengan rata-rata keuntungan sekitar Rp1 juta per bulan, sehingga total dana yang ia kelola mencapai Rp2,4 juta. Kendati demikian, instrumen pasar modal memiliki risiko fluktuasi yang pernah membuatnya merugi hingga Rp1 juta dalam sebulan.
Tekanan harga pangan juga mengubah pola konsumsi Luthfan. Demi efisiensi biaya, ia beralih dari yang semula rutin mengonsumsi daging ayam menjadi sepenuhnya memilih tempe sebagai sumber protein utama. Pola hidup hemat tersebut tercermin dari perhitungannya terhadap barang pakai, seperti jam tangan seharga Rp80.000 yang ia beli dua tahun lalu dan diperhitungkan bernilai Rp500 per hari untuk estimasi pemakaian empat tahun.
Menambah Jam Kerja Lepas dan Memangkas Belanja Sekunder
Tantangan serupa dirasakan Rangga (20), mahasiswa jurusan teknik di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) yang berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mengandalkan kiriman Rp1,6 juta per bulan dari kakaknya dirasa tidak lagi mencukupi setelah harga makanan terus meningkat. Rangga mencontohkan harga seporsi ayam geprek yang semula berada di kisaran Rp12.000 hingga Rp13.000 kini telah melonjak menjadi Rp15.000 hingga Rp20.000.
Fahd dan Fadia A Rafiq, Kakak Beradik yang Tersandung Kasus di KPK

Guna menutup kekurangan biaya operasional, Rangga mengambil pekerjaan paruh waktu lepas (freelance) sebagai tenaga pemantau migrasi Wi-Fi di sebuah perusahaan, yang memberinya pemasukan tambahan hingga Rp2,5 juta per bulan.
Di Purwokerto, Alfira (21), mahasiswa asal Bekasi yang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri, memilih cara bertahan dengan mengubah kebiasaan harian. Mengelola uang bulanan sebesar Rp2 juta dari orang tuanya, Alfira memutuskan untuk memasak makanan sendiri dan tidak lagi memanfaatkan jasa penatu (laundry).
Ketika kondisi keuangan menipis, Alfira mengorbankan pos pengeluaran sekunder agar kebutuhan pangan primer tetap aman. Pembelian produk perawatan kulit (skincare) dan riasan wajah (make-up) menjadi pos pertama yang ia pangkas saat anggaran bulanan mulai terbatas.
Polisi Cocokkan DNA Jasad Pria di Pulau Enggano dengan Jurnalis Hilang

Sorotan Sosiolog terhadap Beban Biaya di Kawasan Kampus
Kondisi berat yang dialami para mahasiswa rantau tersebut dinilai memiliki keterkaitan struktural dengan ekosistem pendidikan tinggi. Sosiolog Nia Elvina menilai kesulitan yang dihadapi mahasiswa berpangkal dari kebijakan pemerintah terkait pengurangan subsidi pendidikan serta perubahan status Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN/PTN-BH).
Menurut Nia, peralihan status perguruan tinggi turut mendorong naiknya biaya hidup di lingkungan sekitar kampus. Situasi ini berdampak langsung dan membebani mahasiswa yang berasal dari latar belakang keluarga ekonomi menengah ke bawah.






