Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan rasa leganya setelah resmi menanggalkan jabatan sebagai Menteri Keuangan. Usai prosesi serah terima jabatan (sertijab) di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Selasa (15/9), ia mengaku tidak perlu lagi memikirkan tanggungan kewajiban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
Sebelum masa jabatannya berakhir, skema penyelesaian beban pembiayaan Whoosh telah melalui tahap restrukturisasi. Berdasarkan skema tersebut, masa pengembalian utang proyek kereta cepat disepakati mencapai tenor hingga 80 tahun, dengan nilai cicilan tahunan berada di kisaran Rp1 triliun atau sedikit di bawah angka tersebut.
Pengalihan Pengelolaan dan Skema Pembayaran
Pengelolaan kewajiban utang Whoosh dijadwalkan dialihkan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara ke Kementerian Keuangan per 15 September 2026. Dalam pelaksanaannya, tanggung jawab tersebut berpotensi ditangani langsung oleh entitas Special Mission Vehicle (SMV) di bawah naungan Kementerian Keuangan atau melalui Indonesia Investment Authority (INA).
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.042,91 T pada Juli 2026

Purbaya memastikan bahwa entitas yang nantinya ditugaskan mengelola kewajiban itu tidak dituntut mencari investor baru semata-mata untuk membayar cicilan berjalan.
Struktur Pembiayaan Proyek Kereta Cepat
Proyek Kereta Cepat Whoosh membukukan total nilai investasi sebesar US$7,2 miliar, atau sekitar Rp116,54 triliun dengan asumsi kurs Rp16.186 per dolar AS. Porsi pembiayaan proyek ini didominasi oleh pinjaman dari China Development Bank yang mencakup 75 persen dari keseluruhan nilai investasi.
Chandra Asri Group dan Bank Mandiri Perkuat Kerja Sama Strategis

Adapun sisa kebutuhan dana sebesar 25 persen dipenuhi melalui setoran modal para pemegang saham. Konsorsium tersebut melibatkan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dengan kepemilikan saham 60 persen, serta Beijing Yawan HSR Co Ltd sebesar 40 persen.
Proyek Whoosh bermula pada 2015 ketika pemerintah mengevaluasi tawaran pembangunan kereta cepat antara China dan Jepang. Kala itu, China mengajukan nilai investasi awal sebesar US$5,13 miliar, yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan proposal Jepang senilai US$6,2 miliar.






