PT Bukit Asam Tbk (PTBA) terus memperkuat strategi jangka panjang dengan memperluas lini bisnis agar tidak hanya bertumpu pada penjualan komoditas batu bara semata. Sebagai bagian dari langkah diversifikasi dan hilirisasi, emiten pertambangan ini aktif mendorong ekspansi bisnis di luar batu bara, termasuk mengejar realisasi proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Bambang Ismawan, menyampaikan rasa optimistis perseroan dalam mencapai target operasional tambang pada 2026. Perseroan memproyeksikan perolehan target produksi batu bara dapat menembus volume sebesar 48 juta ton pada tahun tersebut.
Pemenuhan Target Produksi dan Kewajiban DMO
Di samping membidik volume produksi 48 juta ton pada 2026, PTBA menempatkan pemenuhan kebutuhan energi nasional sebagai salah satu prioritas utama. Perseroan menargetkan pemenuhan pasokan batu bara untuk pasar dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) hingga sebesar 50 persen dari total produksi.
IHSG Berakhir di Zona Merah, Ditutup Turun 0,25%

Komitmen alokasi DMO sebesar 50 persen dari total produksi tersebut berjalan beriringan dengan upaya PTBA mengoptimalkan kinerja operasional di seluruh wilayah konsesi tambang yang dikelola perseroan.
Transisi Kendaraan Tambang Listrik dan Hilirisasi
Selain memacu proyek hilirisasi gasifikasi DME dan mendorong ekspansi usaha di luar bisnis batu bara, efisiensi konsumsi energi di lapangan pertambangan juga menjadi perhatian utama. Pada akhir tahun 2026 ini, PTBA menargetkan pemenuhan target produksi dapat tercapai bersamaan dengan langkah penekanan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Bandel di Pasar Modal, OJK Beri Sanksi Rp104 Miliar ke 113 Pihak

Langkah pengurangan ketergantungan BBM di area operasional tersebut diwujudkan perseroan melalui program transisi menuju pemanfaatan kendaraan tambang listrik.
Strategi menyeluruh perseroan terkait proyek gasifikasi batu bara menjadi DME, komitmen pasokan DMO 50 persen, target produksi 48 juta ton pada 2026, serta transisi operasional armada ke kendaraan tambang listrik telah diulas secara mendalam oleh Mercy Widjaja bersama Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan dalam program Closing Bell, CNBC Indonesia.






