Perkembangan pasar aset kripto selalu menarik perhatian global, terutama ketika berbicara mengenai potensi pergerakan harga Bitcoin di masa depan. Banyak investor yang memimpikan nilai Bitcoin akan menembus angka fantastis seperti US$1 juta dalam beberapa tahun ke depan. Namun, proyeksi yang lebih membumi dan rasional kini mulai banyak dibahas oleh para ahli. Salah satunya adalah Dominic Basulto, seorang analis sekaligus kolumnis dari The Motley Fool. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Yahoo Finance pada Kamis (30/7), ia menilai bahwa target kapitalisasi pasar sebesar US$2,5 triliun dalam tiga tahun ke depan jauh lebih realistis untuk dicapai dibandingkan dengan ekspektasi ekstrem tersebut.
Untuk merealisasikan estimasi kapitalisasi pasar sebesar US$2,5 triliun tersebut, Bitcoin perlu mempertahankan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 25 persen. Dalam perhitungannya, Basulto menggunakan asumsi bahwa harga awal Bitcoin saat ini berada di kisaran US$65 ribu. Jika aset kripto terbesar di dunia ini mampu menjaga tingkat pertumbuhan majemuk tahunan atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 25 persen, maka harga Bitcoin diperkirakan akan mencetak rekor tertinggi baru di kisaran US$126 ribu dalam tiga tahun mendatang. Proyeksi kapitalisasi pasar ini juga didasarkan pada asumsi matematis bahwa jumlah Bitcoin yang beredar di pasar akan mencapai sekitar 20 juta keping pada periode tersebut.
Bahlil Sebut Perusahaan Asal Rusia Rusal Bakal Bangun Pabrik Pemurnian Bauksit di Kalimantan

Sangat penting bagi para investor untuk memahami konsep pertumbuhan majemuk tahunan ini secara tepat. Tingkat pertumbuhan sebesar 25 persen tidak berarti bahwa Bitcoin akan mengalami kenaikan konstan dengan angka yang sama setiap tahunnya. Angka ini merupakan rata-rata pertumbuhan dalam jangka waktu tertentu, di mana fluktuasi harga yang tajam masih sangat mungkin terjadi di sepanjang jalan. Basulto mengingatkan bahwa Bitcoin, seperti aset kripto lainnya, akan tetap menjadi instrumen investasi yang volatil. Namun, intensitas pergerakannya diperkirakan tidak akan sebuas masa lalu. Sebagai perbandingan historis, pada tahun 2013, nilai Bitcoin pernah melonjak drastis hingga lebih dari 5.400 persen hanya dalam waktu satu tahun. Lompatan agresif seperti itu dinilai sudah tidak relevan dan tampaknya sulit terulang kembali di masa sekarang.
Perubahan karakteristik pergerakan harga ini terjadi karena Bitcoin sedang memasuki fase yang lebih matang dibandingkan dengan masa-masa awal kemunculannya. Pasar kripto saat ini terus kedatangan aliran dana yang sangat deras dari para investor institusi. Kehadiran institusi ini memberikan landasan yang lebih kokoh bagi pergerakan harga Bitcoin. Menurut analisis Basulto, pergerakan harga Bitcoin ke depan akan semakin menyerupai saham-saham teknologi dengan beta tinggi. Menariknya, potensi tingkat pertumbuhan tahunan sekitar 25 persen tersebut juga dinilai masih sejalan dan sebanding dengan tingkat pengembalian yang biasa dibukukan oleh beberapa saham teknologi berkapitalisasi besar di pasar saham.
Pertamina Buka Suara soal Pembatasan Pertalite di Luwu Utara

Dengan mempertimbangkan dinamika pasar yang baru ini, para investor disarankan untuk mulai menyesuaikan ekspektasi investasi mereka. Mengharapkan keuntungan ribuan persen dalam waktu singkat mungkin sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi pasar saat ini yang lebih stabil berkat dukungan institusional. Sebaliknya, membidik potensi pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 25 persen menjadi target yang jauh lebih sehat dan terukur. Meskipun risiko tambahan, ketidakpastian, dan volatilitas tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari aset kripto, target kapitalisasi pasar Bitcoin menuju US$2,5 triliun dalam tiga tahun ke depan merupakan proyeksi yang berlandaskan perhitungan logis. Angka ini bukanlah sekadar mitos tanpa dasar, melainkan sebuah target realistis yang sebanding dengan potensi keuntungan yang ditawarkan di era kematangan kripto.






