PT Pertamina (Persero) resmi memperkuat komitmen pengembangan energi bersih nasional melalui langkah kemitraan strategis bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama yang berlangsung di Kota Bandung pada 29 Juli. Melalui kolaborasi tersebut, kedua pihak sepakat untuk mengoptimalkan potensi pengolahan sampah perkotaan agar dapat dikonversi menjadi sumber energi bersih berupa hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel. Kesepakatan ini mencakup berbagai bidang kerja sama yang strategis, mulai dari ranah pengembangan energi baru dan terbarukan, pengelolaan lingkungan hidup, hingga program pemberdayaan masyarakat sekitar.
Fokus utama dalam rencana pemanfaatan limbah ini tertuju pada penanganan gas metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. TPA Sarimukti selama ini memegang peranan sentral sebagai lokasi utama penampungan dan pengelolaan sampah bagi masyarakat di kawasan Bandung Raya. Dalam mekanisme pengolahan yang dirancang, gas bio yang keluar dari pembusukan sampah di lokasi tersebut akan dimurnikan menjadi biomethane. Setelah tahap purifikasi selesai, biomethane tersebut akan diproses kembali hingga menghasilkan hidrogen dengan emisi karbon yang rendah sebagai bagian dari ekosistem pengolahan sampah menjadi energi.
Pelaksanaan program konversi sampah menjadi energi bersih ini diproyeksikan bakal melibatkan beberapa lini unit bisnis internal Pertamina. Penanganan teknis dan pengembangannya akan dikerjakan bersama oleh Subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) serta Subholding Gas. Masing-masing subholding memiliki peran dan tanggung jawab yang spesifik, mulai dari tahap penyediaan bahan baku, proses pengolahan, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga fase distribusi dan komersialisasi produk energi yang dihasilkan. Sinergi di dalam tubuh Pertamina Group ini diharapkan mampu menciptakan rantai nilai energi bersih yang terintegrasi secara penuh dari hulu hingga ke hilir.
Tim 9 Kejagung Sita 38 Aset Senilai Rp846 Miliar Terkait Kasus Febrie Adriansyah

Tidak hanya memanfaatkan potensi domestik dan entitas badan usaha milik negara, kolaborasi ini juga merangkul mitra skala internasional guna memastikan adopsi teknologi dapat berjalan secara optimal. Salah satu mitra asing yang digandeng dalam proyek pengembangan teknologi energi rendah karbon ini adalah perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai. Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero), Emma Sri Martini, menjelaskan bahwa keterlibatan mitra internasional bertujuan untuk mempercepat pengembangan teknologi. Program ini diharapkan dapat menjadi percontohan dalam membangun ekosistem hidrogen di Indonesia, yang nantinya dapat diperluas dan direplikasi di berbagai daerah lain apabila implementasinya berjalan dengan baik.
Sejalan dengan agenda penataan lingkungan hidup regional, Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi juga meluncurkan langkah komplementer di sektor pengelolaan limbah. Pemprov Jawa Barat secara resmi menggelar acara peletakan batu pertama atau groundbreaking untuk Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang berlokasi di kawasan Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka. Pembangunan fasilitas pengolahan terpadu ini dirancang untuk memiliki kapasitas pemrosesan yang terbilang besar, yakni mampu mengolah sekitar 2.000 ton sampah per hari.
Jaga Ketahanan Pangan, Luthfi Perketat Perlindungan Sawah di Jateng

Dari volume pengolahan limbah harian tersebut, fasilitas PSEL ditargetkan mampu memproduksi energi listrik dengan kapasitas mencapai sekitar 40 MW. Pengoperasian fasilitas pengolahan di Legok Nangka ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang dalam mengurangi beban daya tampung berlebih di TPA Sarimukti. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan bahwa pembangunan fasilitas PSEL Legok Nangka akan semakin memperkuat posisi Jawa Barat sebagai salah satu pusat pengembangan energi bersih. Menurutnya, pengembangan fasilitas serupa juga direncanakan untuk diperluas ke sejumlah kawasan lain di Jawa Barat agar persoalan sampah dapat ditangani secara lebih optimal.
Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa fasilitas PSEL Legok Nangka ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2029 mendatang. Selain berkontribusi pada pasokan listrik bersih, proyek strategis tersebut juga diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih baik, meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, serta mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah menjadi energi dan bahan bakar terbarukan secara berkelanjutan.






