Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa positif pada akhir pekan lalu dengan ditutup menguat 1,04 persen ke level 6.409,65 pada perdagangan Jumat, 7 Agustus. Penguatan ini juga diiringi oleh aksi beli bersih oleh investor asing yang cukup signifikan, yakni mencapai Rp917,23 miliar di pasar reguler dan menembus Rp1,27 triliun di seluruh pasar. Sentimen positif ini menjadi modal berharga bagi pasar modal dalam negeri, meskipun pelaku pasar tetap perlu mencermati evaluasi status pembekuan (freeze) Indonesia oleh FTSE Russell yang dijadwalkan berlangsung pada 10 hingga 14 Agustus 2026.
Di tengah dinamika pasar tersebut, beberapa emiten menawarkan peluang investasi menarik dengan katalis yang beragam, mulai dari pembagian dividen interim hingga proyeksi ekspansi bisnis jangka panjang. Bagi para pelaku pasar yang mengincar keuntungan jangka pendek dari dividen, saham PT Eastparc Hotel Tbk (EAST) layak masuk dalam radar pantauan. Perusahaan perhotelan ini bersiap membagikan dividen tunai interim kedua untuk tahun buku 2026 sebesar Rp2 per saham, dengan total nilai mencapai sekitar Rp8,25 miliar.
Langkah pembagian dividen oleh EAST ditopang oleh kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun ini. Pada semester I-2026, emiten hotel ini membukukan laba bersih sebesar Rp16,96 miliar, atau tumbuh 34,32 persen secara tahunan dibandingkan dengan Rp12,62 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Hingga 30 Juni 2026, perseroan mengantongi saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp9,10 miliar dengan total ekuitas Rp458,74 miliar. Dengan harga penutupan saham EAST di level Rp93 per saham pada Jumat lalu, cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada hari ini, 10 Agustus 2026, sedangkan pembayarannya dijadwalkan pada 28 Agustus 2026.
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Bagi investor yang lebih menyukai potensi pertumbuhan dari proyek komoditas skala besar, PT Singaraja Putra Tbk (SINI) menawarkan narasi yang berbeda melalui proyek tambang batu bara di Kalimantan Tengah. Melalui proyek PT Pesona Bara Cakrawala (PBC) dan PT Cakrawala Bara Persada (CBP), SINI memproyeksikan potensi pendapatan kumulatif yang sangat besar, yakni mencapai US$3,26 miliar. Namun, realisasi angka tersebut sangat bergantung pada kelancaran operasional dan perkembangan infrastruktur di lapangan.
Secara rinci, proyek PBC diproyeksikan menyumbang pendapatan sebesar US$2,60 miliar dengan asumsi total produksi 42 juta ton dan harga jual batu bara US$62 per ton. Target pemotongan pertama (first cut) proyek ini dijadwalkan pada kuartal IV-2026, meskipun pembebasan lahan baru mencapai kisaran 45 persen. Di sisi lain, proyek CBP diharapkan mendatangkan pendapatan US$656 juta dengan asumsi harga jual US$82 per ton dan produksi 8 juta ton. Pembangunan jalan angkut (hauling road) CBP kini telah mencapai 83,74 persen, namun pembebasan lahan baru berada di angka 15 persen dengan target operasional pada semester II-2027. Perbedaan kemajuan fisik jalan dan pembebasan lahan ini menjadi faktor ketidakpastian yang perlu diantisipasi oleh para investor.
Sementara itu, di sektor manufaktur dan ekspor, PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) menyajikan peluang menarik lewat strategi diversifikasi pasar global. Saat ini, sekitar 90 persen dari total penjualan ekspor perseroan masih sangat bergantung pada pasar China. Menyadari risiko konsentrasi pasar tersebut, RLCO mulai memperluas jangkauan ekspornya ke Thailand setelah sebelumnya berhasil menembus pasar Vietnam. Tidak berhenti di situ, perseroan juga membidik pasar Amerika Serikat dan Hong Kong sebagai sasaran ekspansi berikutnya.
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Rencana ekspansi pasar RLCO ini nantinya akan didukung oleh pengembangan portofolio produk baru berbasis protein melalui Marinova. Produk inovatif ini ditargetkan mulai memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan perseroan pada kuartal pertama tahun 2027. Dari sisi kinerja keuangan terbaru, RLCO mencatatkan pendapatan yang relatif stabil sebesar Rp272 miliar pada semester I-2026 dibandingkan dengan Rp270,95 miliar pada semester I-2025. Meskipun pendapatannya stabil, perseroan berhasil mengoptimalkan profitabilitas dengan mencetak kenaikan laba bersih sebesar 13,35 persen secara tahunan menjadi Rp20,37 miliar dari sebelumnya Rp17,97 miliar.
Setiap instrumen investasi tentu membawa peluang dan risikonya masing-masing. Pembagian dividen EAST memberikan kepastian imbal hasil dalam jangka pendek bagi pemburu kas cepat. Sebaliknya, proyeksi pendapatan jumbo dari SINI dan diversifikasi ekspor RLCO menawarkan prospek pertumbuhan jangka panjang, meski realisasinya masih dihadapkan pada tantangan pembebasan lahan serta dinamika perdagangan global. Memahami batas waktu proyek dan target operasional masing-masing emiten akan membantu investor mengambil keputusan yang lebih cermat di tengah fluktuasi IHSG pekan ini.






