Pelaku pasar keuangan global terus mencermati volatilitas pasar yang terjadi di tengah meningkatnya berbagai ketidakpastian eksternal. Gejolak tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, berlanjutnya perang antara Rusia dan Ukraina, hingga tekanan inflasi global yang belum sepenuhnya mereda. Selain persoalan geopolitik dan inflasi, arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Fed, juga menjadi fokus perhatian utama para pelaku pasar.
Kombinasi sentimen dari dalam maupun luar negeri ini turut memberikan dampak langsung terhadap pasar keuangan domestik di Indonesia. Tekanan akibat sentimen pasar tersebut masih terus membayangi kinerja pasar saham, instrumen Surat Berharga Negara (SBN), hingga pergerakan nilai tukar rupiah.
Respons Kebijakan Moneter Bank Indonesia
Kondisi pasar keuangan serta berbagai sentimen eksternal dan domestik tersebut menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan BI-Rate hingga akhir tahun 2026. Bank sentral dituntut untuk terus menjaga stabilitas moneter di tengah dinamika perekonomian global yang fluktuatif.
Akui Kalah dari Vietnam, Bos BI Buka Suara soal Kondisi Ekonomi RI

Director Eastspring Investments Indonesia, Liew Kong Qian, menilai langkah Bank Indonesia tergolong cukup berhati-hati dan konservatif dalam merespons berbagai isu global saat menetapkan arah kebijakan BI-Rate. Sikap kehati-hatian ini dipandang sejalan dengan tantangan yang dihadapi pasar keuangan negara berkembang dalam mengantisipasi dinamika suku bunga global.
Proyeksi Suku Bunga The Fed dan Posisi BI-Rate
Dari sisi global, The Fed diperkirakan masih memiliki peluang untuk menaikkan level Fed Funds Rate (FFR) sebanyak satu kali lagi hingga akhir tahun 2026. Prospek pengetatan moneter lanjutan dari bank sentral AS tersebut tetap menjadi faktor penentu arah arus modal dan stabilitas nilai tukar di berbagai kawasan.
OJK Pastikan POJK Demutualisasi BEI Terbit September 2026

Meski The Fed masih berpeluang menaikkan suku bunga, kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia dinilai sudah berada di posisi ahead of the curve. Dengan posisi kebijakan yang telah mendahului kurva tersebut, tekanan bagi BI untuk kembali menaikkan BI-Rate dinilai cukup terbatas, meskipun faktor stabilitas nilai tukar rupiah tetap akan menjadi pertimbangan utama bank sentral hingga akhir tahun 2026.
Pembahasan mendalam mengenai dinamika pasar keuangan, nasib pergerakan rupiah, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia dan The Fed tersebut diulas dalam dialog bersama Shania Alatas dan Director Eastspring Investments Indonesia Liew Kong Qian di program Power Lunch CNBC.






