Warga Kabupaten Semarang dan Grobogan digemparkan oleh kabar duka sekaligus peristiwa kriminal yang tragis. Candra Waskito, seorang pemuda berusia 25 tahun yang dikenal sebagai pemilik konter handphone (HP) Royal Phone di Ambarawa, ditemukan meninggal dunia di dalam sebuah mobil sedan. Penemuan jasad korban ini mengakhiri pencarian setelah sebelumnya ia dilaporkan hilang akibat aksi perampokan dan penculikan. Pihak kepolisian kini tengah bergerak cepat untuk mengungkap kasus yang diduga melibatkan lebih dari satu orang pelaku ini.
Kronologi peristiwa pilu ini bermula pada Rabu malam, 5 Agustus. Candra Waskito, yang tercatat sebagai warga Kecamatan Banyubiru, dilaporkan menjadi korban penculikan dan perampokan. Kabar hilangnya pemuda ini segera memicu penyelidikan oleh aparat keamanan. Namun, titik terang yang memilukan baru muncul pada hari berikutnya. Pada Kamis pagi, 6 Agustus, sebuah mobil sedan mencurigakan terlihat terparkir di kawasan Desa Trisari, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Lokasi penemuan ini berjarak cukup jauh, yakni sekitar 49 kilometer dari tempat kejadian perkara awal di Ambarawa.
Seorang saksi mata di lokasi kejadian, Dedi, menuturkan bahwa dirinya sempat berpapasan dengan dua orang mencurigakan di dalam mobil tersebut pada Kamis pagi. Menurut kesaksiannya, kedua orang yang berada di dalam mobil sedan itu merupakan laki-laki yang berusia relatif muda. Tidak lama kemudian, Dedi melihat kedua pemuda tersebut keluar dari mobil dan berjalan kaki dengan mengenakan jaket hoodie lengkap dengan penutup kepala untuk menyembunyikan wajah mereka. Keduanya sempat terlihat meminta bantuan kepada warga sekitar agar bersedia mengantarkan mereka menuju ke arah Kecamatan Godong.
Kecurigaan warga akhirnya terbukti ketika pemeriksaan lebih lanjut dilakukan terhadap mobil sedan tersebut. Di dalamnya ditemukan jasad Candra Waskito yang sudah tidak bernyawa. Setelah menerima laporan dari masyarakat, aparat kepolisian segera mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengevakuasi korban. Pada Kamis malam sekitar pukul 23.30 WIB, jenazah Candra Waskito dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani proses autopsi dan pemeriksaan medis mendalam guna mengetahui penyebab pasti kematiannya.
Daryono Gempa Pangalengan Bukan Pertanda Pasti Adanya Gempa Besar

Kapolres Semarang, Ajun Komisaris Besar Heru Dwi Purnomo, mengonfirmasi identitas korban setelah petugas melakukan pencocokan data secara teliti. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal pada tubuh korban, ditemukan adanya bercak darah pada pakaian yang dikenakan serta luka fisik di bagian kepala. Luka-luka tersebut memperkuat dugaan bahwa korban mengalami tindakan kekerasan sebelum akhirnya meninggal dunia.
Selain mengevakuasi korban, petugas kepolisian dari Polsek Gubug yang dipimpin oleh Kapolsek Ajun Komisaris Anang Heriyanto juga berhasil mengamankan sejumlah barang bukti penting di sekitar mobil sedan milik korban. Beberapa barang bukti yang disita antara lain puluhan kardus ponsel kosong dan berbagai komponen handphone yang diduga kuat berasal dari konter milik korban. Petugas juga menemukan sebuah kaos dalam kondisi terbakar di dalam tempat sampah yang berjarak sekitar 15 meter dari posisi mobil sedan terparkir. Barang-barang ini diduga sengaja dibuang atau dibakar oleh pelaku untuk menghilangkan jejak kejahatan mereka.
Hingga Jumat, 7 Agustus, garis polisi masih terpasang erat mengitari konter HP Royal Phone milik korban yang berlokasi di Kelurahan Pojoksari, Kecamatan Ambarawa. Pintu ruko konter tersebut tampak tertutup rapat. Garis polisi sengaja dipasang untuk menjaga status quo tempat kejadian perkara guna kepentingan penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwajib.
Sebulan Gempa NTT, Warga Palue Masih Tinggal di Pengungsian

Kasus yang menimpa Candra Waskito ini menyoroti kerentanan yang dihadapi oleh para pelaku usaha mikro dan informal di daerah. Di Indonesia sendiri, data menunjukkan bahwa pekerja di sektor informal yang rentan masih sangat mendominasi dengan persentase mencapai 59,30%. Kejadian kriminalitas seperti perampokan disertai kekerasan ini tentu menjadi alarm kewaspadaan bagi para pelaku usaha kecil yang sering kali beroperasi hingga larut malam tanpa sistem pengamanan yang memadai.
Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam dan mengejar para pelaku. Berdasarkan keterangan saksi mata dan bukti-bukti yang dikumpulkan di lapangan, polisi menduga kuat bahwa pelaku perampokan dan penculikan ini berjumlah lebih dari satu orang, kemungkinan besar adalah dua pemuda yang sempat terlihat di sekitar mobil korban. Kendati demikian, polisi masih terus mengumpulkan informasi tambahan dan menunggu hasil autopsi resmi dari RS Bhayangkara untuk menyusun rekonstruksi kejadian yang utuh demi menangkap para pelaku kejahatan ini.






