Isu mengenai perombakan susunan menteri atau reshuffle kabinet sering kali menjadi topik yang menyita perhatian publik dalam dinamika politik di Indonesia. Pada akhir bulan Juli 2026, beredar desas-desus yang menyebutkan bahwa Presiden Prabowo Subianto akan segera melakukan kocok ulang susunan kabinetnya dalam waktu dekat. Menanggapi beredarnya kabar tersebut, pihak Istana Kepresidenan dengan segera memberikan klarifikasi resmi. Melalui sebuah keterangan video Sekretariat Presiden pada Kamis malam, 30 Juli 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi secara tegas menepis rumor perombakan tersebut. Politikus dari Partai Gerindra itu menyatakan dengan jelas bahwa untuk sementara waktu ini sama sekali belum ada rencana untuk melakukan reshuffle kabinet.
Meskipun menepis adanya rencana perombakan secara menyeluruh, Prasetyo Hadi memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai langkah yang akan diambil oleh kepala negara. Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto memang memiliki agenda pelantikan, namun hal tersebut hanya diperuntukkan bagi pejabat baru yang akan menempati kursi-kursi kosong di dalam pemerintahan. Langkah ini murni merupakan mekanisme administratif untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan optimal. Menurut keterangan tersebut, Presiden hingga saat ini belum pernah melakukan diskusi apa pun mengenai rencana pergantian pejabat yang sudah ada atau perombakan kabinet dalam waktu dekat.
Kekosongan jabatan yang menjadi fokus utama pemerintah saat ini berada pada level wakil menteri, di mana terdapat beberapa posisi strategis yang tidak dijabat oleh siapa pun. Posisi pertama yang mengalami kekosongan adalah wakil menteri pertanian. Jabatan ini ditinggalkan oleh pejabat sebelumnya, yakni Sudaryono, setelah ia mendapatkan penugasan baru dan dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Posisi kedua yang juga memerlukan pengisian segera adalah wakil menteri imigrasi dan pemasyarakatan. Kekosongan pada kursi ini terjadi setelah pejabat sebelumnya, Silmy Karim, tersandung masalah hukum dan ditetapkan sebagai tersangka dalam sebuah kasus korupsi.
Soal Wacana Ambang Batas Parlemen 5 Persen, PDIP Minta Tetap Patuhi Putusan MK

Pemicu utama dari munculnya isu perombakan kabinet ini ternyata tidak lepas dari rilis hasil survei terbaru yang dipublikasikan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Data dari lembaga survei tersebut menunjukkan adanya tren penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto yang cukup signifikan. Berdasarkan simulasi semi terbuka yang dilakukan oleh SMRC, tingkat keterpilihan Prabowo tercatat mengalami penyusutan dari 34,9 persen pada bulan November 2026 menjadi 14,5 persen pada survei periode Juli 2026. Menariknya, pada periode yang sama, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi justru mengalami lonjakan yang cukup tajam, yakni dari 19,7 persen naik menjadi 35 persen. Selain itu, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden juga merosot dari angka 81,2 persen pada November 2025 menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.
Merespons data statistik dari survei tersebut, pakar komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, memberikan analisisnya pada Jumat, 30 Juli 2026. Ia menilai bahwa merosotnya angka elektabilitas ini seharusnya menjadi peringatan serius atau lampu kuning bagi Prabowo, terutama apabila ia memiliki niat untuk mencalonkan diri kembali pada ajang Pemilihan Presiden atau Pilpres 2029 mendatang. Untuk memperbaiki tingkat keterpilihan dan kepuasan publik, Jamiluddin menyarankan agar Presiden melakukan evaluasi besar-besaran terhadap jajaran kabinetnya. Ia menekankan bahwa kepala negara harus bersikap tegas dan memiliki keberanian untuk merombak para menteri yang secara khusus membidangi tiga sektor krusial, yaitu bidang ekonomi, politik, dan hukum.
Respons Bahlil Soal Fahd Arafiq Jadi Tersangka Korupsi

Meski mendapat tekanan dan sorotan dari berbagai pihak yang merujuk pada hasil survei, pihak Istana tetap menunjukkan sikap yang tenang dan fokus pada jalannya pemerintahan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kembali menegaskan bahwa jajaran kabinet tidak merasa khawatir dengan fluktuasi angka dalam survei tersebut. Ia menekankan bahwa sejak awal pemerintahan dibentuk, seluruh jajaran kementerian bekerja semata-mata untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan dalam rangka mencari atau mengejar angka survei yang tinggi. Pernyataan ini sekaligus menutup polemik dan menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menjalankan program-program strategis tanpa terganggu oleh spekulasi perombakan kabinet yang beredar di ruang publik.






