Indonesia saat ini tengah bersiap menghadapi puncak musim kemarau ekstrem pada tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan mengenai tingginya potensi kekeringan di berbagai wilayah. Situasi ini menuntut perhatian penuh dari pemerintah dan berbagai instansi terkait agar krisis air bersih, kebakaran hutan, dan ancaman terhadap ketahanan pangan dapat segera diatasi. Berikut adalah sejumlah pertanyaan yang sering diajukan mengenai ancaman kemarau panjang serta langkah antisipasi yang telah diusulkan.
Apa penyebab utama ancaman kekeringan ekstrem di Indonesia saat ini?
Ancaman kekeringan yang melanda tanah air saat ini diperparah oleh fenomena El Nino. Menurut para pakar iklim, kondisi El Nino yang tengah berlangsung ini diperkirakan menjadi yang terkuat dalam kurun waktu 150 tahun terakhir. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, pada Sabtu (1/8/2026), menegaskan bahwa faktor alam yang sangat kuat ini harus diantisipasi dengan berbagai cara. Beliau juga mengingatkan bahwa fase saat ini bukan lagi sekadar pencegahan, melainkan sudah masuk pada tahap pengendalian dampak karena kondisinya telah dirasakan langsung oleh masyarakat.
Bagaimana kondisi terkini di daerah-daerah yang terdampak?
Berdasarkan laporan yang diterima oleh Daniel Johan, banyak daerah di Indonesia yang sudah tidak diguyur hujan selama hampir dua bulan. Di wilayah Kalimantan, kondisi ini memicu kemunculan titik-titik panas serta kabut asap. Selain itu, kondisi memprihatinkan juga tercatat di Jawa Barat, di mana sebanyak 93 kecamatan dilaporkan telah dilanda kekeringan. Situasi tersebut dinilai sebagai peringatan keras bahwa krisis ini membutuhkan respons yang sangat cepat dari pemerintah.
Wilayah mana saja yang memiliki potensi kekeringan tertinggi menurut BMKG?
Kejagung Gelar Rakor Bareng Kortas hingga KPK, Febrie Segera Disidang

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, pada Jumat (31/7), menjelaskan bahwa wilayah dengan potensi kekeringan tertinggi meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi bagian selatan. Di daerah-daerah rawan tersebut, curah hujan diproyeksikan akan terus berada di bawah batas normal hingga menjelang awal bulan Oktober.
Mengapa beberapa wilayah seperti Pulau Jawa dan Bali dianggap sangat rentan?
Pulau Jawa menjadi salah satu kawasan yang paling rentan karena tingginya kebutuhan air untuk pusat aktivitas pertanian sekaligus untuk memenuhi kebutuhan populasi yang sangat padat. Sementara itu, wilayah Bali dan Nusa Tenggara secara klimatologis memang lebih sering mengalami kekeringan panjang, sehingga risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan diprediksi akan meningkat drastis. Di sisi lain, defisit curah hujan di Sulawesi Selatan hingga bulan September juga mengancam ketersediaan air bersih dan sektor pertanian setempat.
Kapan puncak musim kemarau dan datangnya musim hujan diprediksi terjadi?
BMKG memprakirakan bahwa puncak musim kemarau pada tahun 2026 akan terjadi sepanjang bulan Agustus hingga September. Setelah melewati masa puncak tersebut, awal musim hujan diperkirakan baru akan mulai masuk pada bulan Oktober, khususnya untuk sebagian wilayah Indonesia bagian barat. Selanjutnya, curah hujan diharapkan mulai meluas ke wilayah lainnya pada bulan November.
Siapa Pemilik Uang Ratusan Miliar OTT KPK di Kantor Pertanahan Bogor?

Apa saja solusi darurat yang diusulkan oleh DPR RI untuk mengatasi krisis ini?
Untuk mengatasi dampak krisis air yang semakin nyata, Daniel Johan mengusulkan dua langkah ekstra kepada pemerintah. Pertama, pengeboran sumur darurat untuk memastikan kebutuhan air harian masyarakat tetap terpenuhi. Kendati demikian, ia mengingatkan agar langkah ini dikendalikan dengan sangat hati-hati supaya tidak menyebabkan degradasi air tanah dalam jangka panjang. Kedua, pemerintah didorong untuk segera melakukan modifikasi cuaca demi memicu turunnya hujan buatan. Langkah ini diprioritaskan bagi wilayah-wilayah yang paling parah terdampak kekeringan serta daerah yang memiliki banyak titik api.
Bagaimana dengan kesiapan koordinasi dan anggaran penanganan bencana kekeringan?
Komisi IV DPR RI memastikan akan terus memberikan perhatian penuh terhadap ancaman ini, terutama yang berkaitan dengan ketahanan pangan dan produksi pertanian. Daniel Johan mendorong agar langkah mitigasi dilakukan secara terkoordinasi lintas instansi, melibatkan BMKG, Kementerian Pertanian, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta pemerintah daerah. Ia juga menegaskan pentingnya dukungan politik anggaran, di mana dana penanganan kekeringan harus disiapkan dan direalokasikan demi mencegah efek buruk yang lebih luas di tengah situasi darurat ini.






