Dua pekan pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur, para siswa di SMPN 7 Ndoso, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, masih harus melangsungkan kegiatan belajar mengajar di ruang terbuka. Kerusakan fisik pada bangunan sekolah membuat sejumlah ruang kelas tidak dapat digunakan secara aman.
Proses belajar mengajar terpaksa berlangsung tanpa naungan atap dan dinding pembatas. Untuk menghindari paparan terik matahari langsung, para guru dan siswa memanfaatkan area teduh di bawah pepohonan di lingkungan sekolah.
Sejak aktivitas belajar dimulai kembali sekitar dua pekan lalu, SMPN 7 Ndoso dilaporkan belum menerima fasilitas tenda darurat sebagai ruang kelas sementara. Ketiadaan sarana darurat ini mendorong wali murid meminta percepatan pengiriman logistik bantuan dari pemerintah setempat.
IKN Siaga 1! Api Kebakaran di 319 Hektare Lahan Belum Padam

Lukas, salah seorang orang tua siswa, menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah segera menyalurkan terpal atau tenda ke sekolah tersebut. Bantuan material itu dinilai krusial agar para orang tua bersama pihak sekolah dapat bergotong royong membangun ruang kelas darurat.
Merespons kebutuhan tersebut, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat, Oktavianus Andi Bona, menjelaskan bahwa alur distribusi bantuan terpal maupun tenda darurat untuk sektor pendidikan disalurkan melalui koordinasi Dinas Pendidikan.
Kejagung Gelar Rakor Bareng Kortas hingga KPK, Febrie Segera Disidang

Dampak Kerusakan Fasilitas Pendidikan
Kondisi yang dihadapi SMPN 7 Ndoso merupakan bagian dari dampak luas gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang melanda wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya 1.378 bangunan sekolah di Flores mengalami kerusakan akibat guncangan tersebut.
Dari total fasilitas pendidikan yang terdampak di NTT, sebanyak 502 sekolah tercatat mengalami kerusakan berat. Bencana ini juga sempat menyebabkan 1.221 sekolah menghentikan aktivitas pembelajaran secara sementara, merusak 173 fasilitas rumah ibadah, serta memicu puluhan titik longsor di sejumlah ruas jalan utama.






