Pakar Teknik Pantai Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Kriyo Sambodho, memaparkan temuan adanya anomali navigasi dan penurunan kecepatan drastis pada KM Virgo Transport 8 sesaat sebelum kapal tersebut mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa.
Berdasarkan penelusuran data pergerakan, titik anomali terdeteksi saat nakhoda melaporkan posisi kapal mulai miring pada Minggu (13/9) pukul 00.49 WIB. Pada momen tersebut, laju kecepatan kapal tercatat merosot tajam hingga tersisa sekitar 6 knot. Selain melambat, arah haluan kapal juga terpantau melenceng dari jalur pelayaran resmi rute Surabaya menuju Banjarmasin.
Faktor Gelombang dan Potensi Air Masuk
Kriyo menjelaskan bahwa analisis kondisi laut pada malam kejadian sebenarnya tidak masuk dalam kategori cuaca ekstrem menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Tinggi gelombang di Laut Jawa saat itu terpantau di kisaran 1,6 hingga 2 meter, disertai embusan angin tenggara berkecepatan 20 knot dengan kekuatan gust hingga 30 knot.
11 Tips Memilih APAR untuk Tangani Kebakaran yang Sesuai Standar

Kendati tidak tergolong cuaca ekstrem, parameter tersebut tetap menghadirkan kondisi laut yang merugikan (adverse marine conditions). Menurutnya, gelombang setinggi 2 meter sangat memungkinkan masuk ke area geladak melalui ramp door apabila pintu palka tersebut tidak tertutup rapat atau kurang kedap. Masuknya air laut dapat memicu reaksi berantai yang merusak keseimbangan kapal hingga lambung miring.
Mengenai hilangnya sinyal sistem pelacakan otomatis (AIS) di sekitar Kepulauan Masalembu, Kriyo menegaskan hal tersebut terjadi murni karena keterbatasan teknis jangkauan stasiun penerima dan responder radio kapal (blank spot), bukan akibat pemadaman perangkat secara sengaja.
Masa Tanggap Darurat Karhutla di Kapuas Diperpanjang hingga 29 September

KM Virgo Transport 8 diketahui bertolak dari Surabaya pada Sabtu (12/9) dan dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA. Kapal tersebut membawa total 243 orang yang terdiri atas penumpang dan awak kapal, serta memuat 89 unit kendaraan. Berdasarkan laporan evakuasi, sebanyak 108 orang berhasil diselamatkan, 6 orang dinyatakan meninggal dunia, dan 129 korban lainnya masih dalam pencarian.






