Kematian seekor orang utan Kalimantan bernama Sempurna akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, memicu desakan perlindungan satwa secara masif. Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan, meminta pemerintah segera meningkatkan langkah penanganan karhutla menjadi operasi darurat penyelamatan satwa.
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama yayasan terkait sempat mengevakuasi dan memberikan pertolongan medis kepada Sempurna, tetapi nyawanya tidak tertolong akibat dampak buruk kabut asap. Johan mengapresiasi upaya penyelamatan awal tersebut, namun menegaskan bahwa kejadian tragis ini harus menjadi landasan peningkatan status respons di lapangan.
Pelaku Pembacokan Nelayan di Sampang Ditangkap, Motif Balas Dendam

Johan mendorong Kementerian Kehutanan segera bergerak cepat dengan memetakan kantong-kantong habitat yang terdampak Karhutla. Kementerian juga didesak mengerahkan tim medis dan personel evakuasi satwa, sekaligus menyediakan sarana rehabilitasi yang layak. Selain itu, prioritas pemadaman api diminta diarahkan ke kawasan-kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat satwa dilindungi.
Satwa yang berhasil melarikan diri dari kobaran api dinilai masih menghadapi ancaman berat, mulai dari gangguan pernapasan, luka bakar, dehidrasi, hingga kelaparan. Rusaknya habitat alami juga berisiko mendorong satwa masuk ke area kebun dan permukiman, sehingga pemerintah perlu mengantisipasi potensi timbulnya konflik antara manusia dan satwa liar.
3 Pengeroyok Warga Pejompongan Ditangkap di Babakan Madang Bogor

Di sisi lain, investigasi menyeluruh dituntut untuk menelusuri sumber serta penyebab meluasnya kebakaran. Penegakan hukum diminta tidak hanya menyasar pihak yang menyalakan api, melainkan turut memeriksa unsur kelalaian dalam pengelolaan kawasan serta penyediaan sarana pencegahan kebakaran. Pihak yang terbukti lalai harus bertanggung jawab atas biaya penyelamatan satwa dan restorasi ekosistem. Johan pun meminta pemerintah membuka data berkala terkait jumlah satwa yang sakit, mati, dievakuasi, ataupun kehilangan ruang hidup akibat bencana Karhutla.






