Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) secara resmi telah meluncurkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Peluncuran hasil survei kolaboratif ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya memetakan tingkat pemahaman serta akses masyarakat terhadap berbagai layanan keuangan di Indonesia. Kerja sama erat antara ketiga lembaga negara ini menunjukkan komitmen bersama dalam mengawal perkembangan sektor keuangan nasional agar semakin inklusif dan dipahami dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebelum hasil survei ini diluncurkan ke publik, rangkaian kegiatan pengumpulan data telah dilaksanakan terlebih dahulu di lapangan. Pendataan lapangan tersebut berlangsung mulai tanggal 26 Januari hingga 18 Februari 2026. Selama periode tersebut, para petugas di lapangan bergerak secara serentak untuk mengumpulkan informasi langsung dari responden yang telah ditentukan. Waktu pelaksanaan yang terstruktur ini memastikan bahwa data yang terkumpul memiliki aktualitas yang baik untuk menggambarkan kondisi terkini di masyarakat.
Untuk menjamin keterwakilan data secara nasional, SNLIK 2026 dirancang dengan menggunakan skala sampel yang sangat besar dan representatif. Survei ini melibatkan sampel sebanyak 74.025 rumah tangga yang tersebar di seluruh penjuru tanah air. Cakupan geografisnya pun sangat luas dan menyeluruh, mencakup 38 provinsi serta 514 kabupaten/kota di Indonesia. Dengan jangkauan wilayah yang mencakup seluruh provinsi dan kabupaten/kota tersebut, hasil dari survei ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi literasi dan inklusi keuangan di berbagai daerah.
Cara Membaca Data Inflasi BPS Terbaru untuk Perencanaan Keuangan

Metode penarikan sampel dalam pelaksanaan SNLIK 2026 dilakukan secara bertahap dan sistematis. Sampel rumah tangga yang menjadi sasaran survei ditarik dari Satuan Lingkungan Setempat (SLS). Jumlah SLS yang diambil di setiap kabupaten atau kota berkisar antara 9 hingga 39 SLS. Selanjutnya, dari masing-masing SLS yang telah terpilih tersebut, petugas survei menentukan dan memilih 10 rumah tangga secara acak untuk dijadikan sebagai responden yang akan diwawancarai secara langsung.
Proses pengumpulan data di lapangan juga telah mengadopsi perkembangan teknologi modern untuk meminimalisasi kesalahan dan mempercepat proses pengolahan data. Pendataan dilakukan dengan menggunakan metode Computer-Assisted Personal Interviewing (CAPI). Melalui metode ini, petugas pengumpul data menggunakan kuesioner digital yang diakses melalui aplikasi Fasih Mobile, sebuah aplikasi yang dikembangkan secara mandiri oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Adapun responden yang berhak dan terpilih untuk memberikan jawaban dalam survei ini adalah individu yang berada dalam kelompok usia 15 hingga 79 tahun.
OJK Ungkap Sederet Tantangan Industri Multifinance

Kegiatan peluncuran hasil survei nasional ini didukung penuh oleh para pimpinan lembaga terkait, termasuk OJK yang dalam hal ini dipimpin oleh Friderica Widyasari Dewi selaku Ketua Dewan Komisioner OJK. Kehadiran dan sinergi antara OJK, BPS, dan LPS dalam merilis hasil SNLIK 2026 ini diharapkan dapat menjadi landasan kuat bagi penyusunan kebijakan strategis di sektor jasa keuangan. Data yang dihasilkan dari survei ini akan sangat berguna untuk merumuskan program edukasi keuangan serta perluasan akses keuangan yang lebih efektif di masa yang akan datang.






