Dunia seni rupa Indonesia kembali berduka atas berpulangnya salah satu maestro kebanggaan Tanah Air, Nasirun. Seniman yang lahir di Cilacap, Jawa Tengah, ini mengembuskan napas terakhirnya pada hari Sabtu, 1 Agustus 2026. Beliau dinyatakan meninggal dunia pada sekitar pukul 05.58 WIB saat sedang berada di Rumah Sakit AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Kepergian sang maestro pada usia 60 tahun tersebut meninggalkan duka mendalam bagi dunia kesenian, sekaligus mewariskan jejak karya serta kisah hidup yang luar biasa untuk terus dikenang oleh generasi mendatang. Sosoknya tidak hanya dihormati karena kualitas karyanya, tetapi juga karena kepribadiannya yang sangat unik.
Sebagai seorang perupa, nama Nasirun tidak hanya bergema di dalam negeri, tetapi juga telah dikenal luas di kancah seni rupa internasional hingga menjangkau lima benua. Reputasi global ini dibangun melalui perjalanan karier yang panjang dan dedikasi yang tidak pernah surut terhadap dunia kesenian. Sepanjang masa aktifnya, Nasirun telah berpartisipasi dalam berbagai pameran bergengsi di Indonesia maupun di mancanegara. Beberapa negara yang pernah menjadi saksi bisu keindahan karya sang maestro antara lain adalah Singapura, Jepang, dan Prancis. Kehadiran karya-karyanya di negara-negara tersebut membuktikan bahwa bahasa seni yang ia sampaikan mampu melampaui batas-batas geografis dan budaya.
Produktivitas Nasirun dalam berkarya juga menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Secara keseluruhan, seniman ini tercatat telah menghasilkan sekaligus mengoleksi sebanyak 1.448 karya seni. Menariknya, ribuan karya berharga tersebut tidak disembunyikan di galeri tertutup yang eksklusif, melainkan dipajang dengan rapi di rumah pribadinya. Kediaman sang maestro pun bertransformasi menjadi sebuah ruang pameran yang terbuka bagi siapa saja. Karya-karya tersebut dapat dinikmati oleh para pengunjung secara gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Keputusan untuk membuka pintu rumahnya bagi para penikmat seni menunjukkan betapa ia ingin karyanya dapat diakses dan diapresiasi oleh masyarakat luas.
Izin 26 Perusahaan Pelaku Kebakaran Hutan Dibekukan, Dicabut Permanen?

Di balik reputasi internasional dan nilai ekonomi karyanya yang sangat fantastis, Nasirun memiliki gaya hidup yang jauh dari kesan mewah. Ia diketahui memiliki aset dengan nilai mencapai miliaran rupiah beserta deretan kendaraan mewah di rumahnya. Namun, realitas kesehariannya justru menampilkan kontras yang sangat tajam. Nasirun sama sekali tidak memiliki telepon seluler atau handphone, sebuah perangkat yang seolah menjadi kebutuhan primer bagi manusia modern. Selain itu, ia juga tidak bisa mengemudikan kendaraan. Meski publik sering menilainya dengan berbagai sebutan, sang maestro justru menolak label-label tersebut. Dalam sebuah kesempatan, ia secara tegas menyatakan, "Bersahajanya saya tolak, miliunernya juga saya tolak."
Kisah unik lain yang mewarnai perjalanan karier Nasirun adalah julukan "Seniman Gorengan" yang begitu lekat dengan sosoknya. Sebutan yang terdengar tidak biasa untuk seorang maestro ini bermula dari sebuah peristiwa pada tahun 1997. Saat itu, Nasirun menggelar sebuah pameran seni di tempat almarhum Sandi Sulaiman. Pameran tersebut dibuka pada jam 7, dan di luar dugaan, seluruh karya yang dipamerkan sudah habis terjual atau sold out pada jam 3. Fenomena karya seni yang laris manis dalam waktu yang sangat singkat itulah yang kemudian melahirkan julukan "Seniman Gorengan".
Soal Wacana Ambang Batas Parlemen 5 Persen, PDIP Minta Tetap Patuhi Putusan MK

Seluruh pencapaian, kekayaan, dan popularitas yang diraih Nasirun pada akhirnya tidak pernah mengubah prinsip dasar yang ia pegang teguh dalam berkesenian. Baginya, seni bukanlah alat untuk memuaskan ego atau mencari keuntungan duniawi semata. Sang maestro memandang proses kreatifnya sebagai sesuatu yang murni dan terlepas dari persaingan. Ia pernah mengungkapkan pandangannya dengan kalimat yang sangat mendalam, "Saya dari berkesenian tak pernah ambisi untuk menjadi populer, ambisi menjadi kaya raya, apalagi ambisi untuk mengalahkan orang lain." Ketulusan niat dan dedikasi tanpa pamrih inilah yang menjadikan sosok Nasirun sebagai teladan abadi dalam dunia seni rupa Indonesia.






