Era transisi energi yang kian dinamis menuntut sektor industri untuk segera beradaptasi demi menjaga keberlanjutan dan daya saing bisnis. Penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) kini tidak lagi sekadar pemenuhan regulasi atau aspek kepatuhan administratif semata, melainkan telah bergeser menjadi sebuah investasi strategis. Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (31/7), ESG harus dipandang sebagai investasi strategis yang mampu mengubah kepatuhan menjadi keunggulan kompetitif. Hal ini dinilai sebagai fondasi penting untuk membangun daya saing sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan. Salah satu contoh nyata dari komitmen ini ditunjukkan oleh PT Pertamina (Persero) yang terus memperkuat implementasi ESG guna menyokong transformasi bisnis berkelanjutan perusahaan.
Langkah awal dalam membangun kapabilitas berkelanjutan di lingkungan perusahaan adalah dengan menyasar seluruh elemen di dalam organisasi tanpa terkecuali. Program peningkatan kapasitas sumber daya manusia tidak boleh hanya menyentuh level manajemen puncak atau divisi tertentu saja. Di Pertamina, upaya ini diwujudkan melalui pembentukan Pertamina Sustainability Academy (PSA). Komitmen kuat ini mendapat pengakuan luas, terbukti dengan keberhasilan PSA meraih Anugerah Utama Sektor Energi pada ajang IDX Channel Anugerah ESG 2026. Penghargaan tersebut mengapresiasi upaya pembinaan kapabilitas serta budaya keberlanjutan secara sistematis. Target edukasi dari program ini sangat komprehensif, mencakup seluruh pekerja mulai dari tingkat operasional di lapangan hingga jajaran Direksi dan Dewan Komisaris. Dengan melibatkan seluruh tingkatan jabatan, keselarasan pemahaman mengenai keberlanjutan dapat terbentuk secara menyeluruh dari atas ke bawah.
Pertamina Kejar Seluruh SPBU Salurkan B50 pada Akhir September

Langkah kedua adalah menyusun jalur pembelajaran yang terstruktur dan berjenjang untuk memfasilitasi peningkatan kompetensi secara bertahap. Untuk membekali pekerja dengan keahlian yang relevan dalam menghadapi tantangan transisi energi, kurikulum harus dirancang secara sistematis. Senior Vice President Business Sustainability Pertamina, Wenny Ipmawan, menjelaskan bahwa transformasi energi pada hakikatnya adalah transformasi manusia. Oleh karena itu, kurikulum PSA dirancang khusus untuk membekali pekerja dengan kapabilitas yang relevan, mulai dari pemahaman dasar hingga tingkat pengambilan keputusan strategis. Jalur pembelajaran berjenjang ini meliputi Mandatory Sustainability Training dan Sustainability Awareness Program sebagai fondasi awal. Selanjutnya, program dikembangkan secara progresif ke tingkat yang lebih tinggi melalui Sustainability Accelerator Program, Sustainability Masterclass, hingga Sustainability Transcendence Forum yang ditujukan bagi jajaran Direksi dan Dewan Komisaris.
Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah menginternalisasi nilai-nilai keberlanjutan menjadi budaya kerja sehari-hari yang dipraktikkan secara aktif. VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa ESG tidak boleh hanya berhenti sebagai komitmen tertulis perusahaan semata. Penguatan kapabilitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan pembangunan budaya. Ia menyatakan bahwa ESG harus diwujudkan menjadi kompetensi dan budaya yang hidup dalam keseharian setiap pekerja atau Perwira Pertamina. Ketika seluruh insan perusahaan memiliki pemahaman, nilai, dan semangat yang sama, prinsip keberlanjutan akan hadir secara nyata dalam setiap keputusan bisnis. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan mengembangkan berbagai program budaya yang interaktif seperti program Jejak Keberlanjutan, pembuatan podcast keberlanjutan, serta penyediaan informasi rutin melalui Sustainability Insight.
Inalum Raih Peringkat BBB- Outlook Stabil dari S&P Global Ratings

Langkah terakhir adalah menyelaraskan seluruh program pengembangan kapabilitas dan budaya ini dengan strategi jangka panjang perusahaan agar memberikan dampak dan nilai tambah yang nyata. Penguatan kompetensi sumber daya manusia ini harus dapat menyokong arah bisnis utama, seperti implementasi Dual Growth Strategy milik Pertamina. Selain itu, kesiapan insan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan sangat menentukan keberhasilan transisi tersebut. Upaya kolektif ini secara khusus difokuskan untuk mendukung target nasional dan global yang lebih besar, yakni pencapaian target Net Zero Emission pada tahun 2060 atau bahkan bisa terealisasi lebih cepat. Melalui penguatan kapabilitas dan budaya yang berjalan beriringan, perusahaan tidak hanya membangun organisasi yang adaptif dalam menghadapi transisi energi, tetapi juga mampu menciptakan nilai jangka panjang yang bermanfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan seluruh pemangku kepentingan.






