Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan imbauan bagi perbankan yang saat ini berada di kategori Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) I untuk segera naik kelas ke kategori KBMI II. Merespons imbauan regulator tersebut, PT Bank Neo Commerce Tbk. yang tercatat di bursa dengan kode emiten BBYB mulai menyusun langkah strategis. Direktur Utama BNC, Eri Budiono, menyatakan bahwa pihaknya menanggapi positif arahan tersebut demi memperkuat struktur permodalan. Dalam acara Media Gathering yang diselenggarakan di Rumah Wijaya, Jakarta Selatan, pada tanggal 31 Juli 2026, Eri Budiono menyampaikan bahwa rencana terkait kenaikan kelas ini sudah mulai dibahas secara serius. Langkah ini dinilai sejalan dengan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan kapasitas dan daya saing di industri perbankan digital tanah air.
Sesuai dengan regulasi perbankan yang berlaku saat ini, kategori KBMI II diisi oleh bank-bank yang memiliki modal inti dengan rentang antara Rp6 triliun hingga Rp14 triliun. Bagi Bank Neo Commerce, pemenuhan persyaratan modal inti ini masih menjadi fokus utama yang perlu diselesaikan. Merujuk pada laporan keuangan perusahaan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026, modal inti minimum yang dimiliki oleh BNC saat ini baru mencapai Rp4,09 triliun. Posisi permodalan tersebut menunjukkan bahwa bank digital yang dimiliki oleh Akulaku ini masih memerlukan upaya lanjutan untuk mencapai batas bawah yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Meskipun demikian, manajemen meyakini bahwa target tersebut dapat direalisasikan dengan perencanaan yang matang.
Mengenai tenggat waktu pencapaian target tersebut, Eri Budiono mengakui bahwa PT Bank Neo Commerce Tbk. belum memiliki garis waktu atau timeline khusus untuk mengejar kewajiban modal inti sebesar Rp6 triliun. Saat ini, perseroan masih dalam tahap menunggu petunjuk teknis (juknis) lebih lanjut dari Otoritas Jasa Keuangan sebagai landasan untuk merealisasikan proses transisi ke KBMI II. Sembari menunggu arahan teknis dari regulator, manajemen BNC tidak berdiam diri. Pihaknya telah proaktif membicarakan perihal kenaikan kelas ini dengan para pemegang saham pengendali. Pembahasan dengan pemegang saham pengendali ini sangat krusial untuk merumuskan formulasi strategi yang tepat serta mengidentifikasi langkah-langkah yang diperbolehkan oleh regulator dalam rangka penguatan modal perseroan.
Breaking! BI Catat Utang Luar Negeri RI Tembus US$454,8 M di Juli

Untuk memenuhi persyaratan modal inti menuju KBMI II, manajemen Bank Neo Commerce membuka sejumlah opsi strategis yang memungkinkan untuk dieksekusi dalam waktu mendatang. Salah satu langkah yang dipertimbangkan oleh bank digital ini adalah melakukan penambahan modal. Selain penambahan modal, perseroan juga membuka peluang untuk melaksanakan berbagai opsi aksi korporasi lainnya yang dinilai sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasar. Keputusan mengenai jenis aksi korporasi yang akan diambil nantinya diharapkan dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi pemenuhan regulasi, tetapi juga bagi fundamental bisnis bank secara keseluruhan. Dukungan penuh dari pemegang saham pengendali, termasuk Akulaku, tentu menjadi faktor penting dalam memuluskan rencana aksi korporasi tersebut.
Di tengah upaya untuk naik kelas ke KBMI II, PT Bank Neo Commerce Tbk. terus menunjukkan performa operasional yang positif. Berdasarkan data hingga semester pertama tahun 2026, bank ini mencatatkan total aset yang mencapai Rp17,45 triliun. Kinerja pendapatan juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dari sisi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih atau Net Interest Income (NII) perseroan tercatat sebesar Rp1,11 triliun. Pencapaian ini turut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan berbasis komisi atau Fee Based Income. Sepanjang paruh pertama tahun 2026, pendapatan berbasis komisi BNC mengalami peningkatan menjadi Rp59,66 miliar, yang merepresentasikan pertumbuhan sebesar 6,77% secara tahunan atau year on year (yoy).
Breaking News! IHSG Pagi-Pagi Sudah Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

Kepercayaan nasabah terhadap layanan Bank Neo Commerce juga tercermin dari stabilitas penghimpunan dana. Selama semester I-2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh BNC mencapai Rp12,30 triliun. Dari total DPK tersebut, dana tabungan masyarakat mengalami peningkatan menjadi Rp3,39 triliun, tumbuh 2,10% yoy jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan dari sisi pendapatan dan penghimpunan dana ini berkontribusi langsung pada profitabilitas perusahaan. Hingga akhir Juni 2026, BNC telah berhasil mencetak laba sebesar Rp294,85 miliar. Angka ini naik 6,81% secara tahunan dibandingkan capaian laba pada periode yang sama di tahun sebelumnya, memberikan tambahan amunisi bagi rencana penguatan modal perseroan.
Kendati telah berhasil mencatatkan laba yang terus bertumbuh, tantangan pada neraca keuangan PT Bank Neo Commerce Tbk. masih belum sepenuhnya usai. Bank digital milik Akulaku ini masih mencatatkan saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya dalam jumlah yang cukup signifikan, yakni sebesar Rp1,59 triliun. Menanggapi kondisi tersebut, Eri Budiono menegaskan bahwa manajemen akan terus mengupayakan kinerja yang baik dan berkelanjutan di masa mendatang. Apabila perusahaan dapat terus mempertahankan laju kinerja (run rate) yang positif seperti saat ini, Eri memproyeksikan bahwa Bank Neo Commerce akan mampu menutup seluruh saldo defisit tersebut pada tahun 2027. Penyelesaian saldo defisit ini diharapkan akan semakin memperkuat fundamental BNC dalam perjalanannya sebagai bank KBMI II.






