Wilayah eksklave Spanyol di pantai utara Afrika, Ceuta, baru-baru ini menjadi pusat perhatian dunia setelah gelombang migrasi besar-besaran memicu ketegangan diplomatik di internal Uni Eropa. Ceuta, bersama dengan Melilla, merupakan satu-satunya wilayah Uni Eropa yang berbatasan darat langsung dengan benua Afrika, khususnya Maroko. Letak geografis yang strategis ini menjadikannya titik rawan dalam dinamika arus migrasi menuju benua Eropa.
Kronologi krisis bermula ketika sekitar 72.000 orang yang putus asa mencoba menerobos penghalang pemecah gelombang dari arah Maroko demi memasuki Ceuta. Desak-desakan dan kepanikan massal di area perbatasan tersebut berujung pada tragedi kemanusiaan yang fatal. Terdapat perbedaan data mengenai jumlah korban jiwa dalam insiden ini. Laporan awal menyebutkan setidaknya 72 orang tewas akibat tenggelam atau terinjak-injak dalam kekacauan tersebut. Sementara itu, otoritas Maroko melaporkan bahwa jumlah korban meninggal dunia dalam upaya penyeberangan massal ini mencapai 90 orang.








