PT Pertamina Patra Niaga tengah mengembangkan proyek biorefinery di Cilacap yang mengubah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan (sustainable aviation fuel/SAF). Untuk merealisasikan proyek bioavtur ini, total kebutuhan investasi diperkirakan mencapai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 19,25 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.500 per dolar AS.
Kapasitas Pengolahan dan Distribusi Produk
Fasilitas kilang hijau ini rencananya akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 17,5 hektare di kawasan Kilang Cilacap. Dari segi operasional, kilang tersebut ditargetkan memiliki kapasitas pengolahan mencapai sekitar 860 kiloliter per hari.
Produk bioavtur yang dihasilkan dari pengolahan minyak jelantah ini nantinya akan disalurkan ke sejumlah bandara internasional utama di Tanah Air. Beberapa bandara yang masuk dalam rencana distribusi produk SAF tersebut mencakup Bandara Soekarno-Hatta serta Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar.
Data Kemiskinan RI Versi BPS dan Bank Dunia Berbeda, Kok Bisa?

Tahapan Pembangunan dan Target Operasional
Upaya memproduksi bahan bakar ramah lingkungan ini telah dimulai lewat beberapa tahapan uji coba. Pada 2024, pengujian percontohan (pilot test) penggunaan UCO untuk SAF telah dilaksanakan. Pengembangan tersebut berlanjut pada Juli hingga Agustus 2025 dengan pelaksanaan produksi perdana SAF berbahan baku minyak jelantah di RU IV Cilacap.
Selain pengujian teknis, penyusunan rencana induk (masterplan) proyek juga telah dilakukan pada 2025, yang mencakup engineering design, rencana pembangunan, hingga pelaksanaan proses tender. Pada 2026, fokus pengerjaan beralih ke penyelesaian keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) sekaligus seleksi mitra strategis dalam partnership process.
IHSG Mendadak Anjlok 1% Siang Ini, Ada Dua Hantu Gentayangan!

Setelah proses FID dan penentuan mitra selesai, proyek ini dijadwalkan melangkah ke tahap konstruksi fisik atau engineering, procurement, and construction (EPC) pada 2027. Fasilitas biorefinery Cilacap ini ditargetkan mulai memproduksi bioavtur secara komersial pada 2029 mendatang.






