Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan bahwa masyarakat sudah dapat mulai berinvestasi dengan modal yang relatif terjangkau. Melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang diterbitkan langsung oleh pemerintah, masyarakat kini dapat menjadi investor hanya dengan modal awal sebesar Rp1 juta.
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (Dirjen SPSK) Kemenkeu, Herman Saheruddin, menyampaikan bahwa waktu terbaik bagi seseorang untuk mulai menabung dan berinvestasi adalah sedini mungkin, tepatnya saat mereka telah memiliki pendapatan. Menurutnya, kesadaran finansial ini sebaiknya diterapkan baik pada pendapatan dari hasil usaha sendiri maupun uang yang diperoleh dari orang tua.
Dalam paparannya pada acara Lampung Financial Festival 2026 yang berlangsung pada Minggu (6/9), Herman menekankan pentingnya disiplin keuangan. Masyarakat diimbau untuk langsung menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka di awal untuk alokasi tabungan dan investasi, bukan sekadar mengandalkan sisa dana setelah pengeluaran konsumsi.
26 Penerbangan di Kualanamu Dibatalkan dan Dialihkan Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Keunggulan dan Akses SBN Ritel
Instrumen SBN ritel dinilai sangat cocok untuk para investor pemula. Selain diterbitkan secara resmi oleh pemerintah dengan batas minimal pembelian yang terjangkau mulai dari Rp1 juta, instrumen ini juga dinilai jauh lebih mudah diakses oleh masyarakat luas jika dibandingkan dengan obligasi korporasi yang umumnya membutuhkan modal jauh lebih besar.
Dari sisi keuntungan, Herman menyebutkan bahwa imbal hasil yang ditawarkan SBN saat ini berada di kisaran 7 persen per tahun. Potensi imbal hasil tersebut berlaku untuk produk SBN berbasis konvensional maupun produk syariah.
Jangan Timbun Uang di Rekening Bank, Maksimal Segini Menurut Pakar

Kemudahan akses juga didukung oleh integrasi sistem digital. Masyarakat yang berminat berinvestasi dapat melakukan pembelian instrumen SBN secara praktis melalui aplikasi mobile banking yang bertindak sebagai mitra distribusi resmi pemerintah.
Selain mendorong kebiasaan berinvestasi dan menyisihkan dana demi mempersiapkan masa depan, Herman turut mengingatkan masyarakat untuk tidak melupakan aspek sosial dalam perencanaan keuangan dengan tetap menyisihkan sebagian pendapatan untuk sedekah.






