JAKARTA — Menyimpan seluruh dana cair di dalam satu rekening tabungan biasa kerap dipandang sebagai langkah praktis dan aman. Namun, para perencana keuangan mengingatkan bahwa kebiasaan menumpuk uang tunai berlebih di rekening utama justru mendatangkan berbagai risiko, mulai dari ancaman kejahatan siber, kekeliruan transaksi, hingga tergerusnya nilai uang akibat laju inflasi.
Perencana keuangan bersertifikat asal Pennsylvania, Amerika Serikat, Jessica Goedtel, menyoroti aspek perlindungan keamanan dana perbankan. Menurutnya, rekening tabungan sering kali tidak dilengkapi dengan sistem proteksi keamanan seketat kartu kredit. Apabila rekening tersebut dibobol pelaku kejahatan, dana nasabah cenderung lebih sulit untuk dipulihkan kembali.
Batas Dana di Rekening Utama
Untuk menghindari risiko keamanan dan kerugian inflasi, sejumlah perencana keuangan umumnya menyarankan masyarakat hanya mengendapkan dana tunai secukupnya di rekening utama. Jumlah ideal yang dianjurkan adalah senilai kebutuhan hidup atau tagihan rutin untuk satu bulan penuh.
26 Penerbangan di Kualanamu Dibatalkan dan Dialihkan Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau

Perencana keuangan Gregory Guenther bahkan menyarankan batas dana yang lebih ringkas pada rekening transaksi harian. Guenther menilai seseorang idealnya cukup menaruh dana untuk kebutuhan satu hingga dua pekan saja di rekening utama.
Guenther menjelaskan bahwa saldo yang terlalu sedikit memang bisa memicu kecemasan saat bertransaksi, tetapi saldo yang terlalu banyak membuat nasabah kehilangan potensi pertumbuhan kekayaan dari instrumen atau akun yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Oleh karena itu, sisa kekayaan di luar kebutuhan jangka pendek disarankan untuk dialihkan ke instrumen investasi yang lebih produktif.
Kemenkeu, Punya Modal Rp1 Juta Sudah Bisa Mulai Investasi SBN Ritel

Penempatan Dana Darurat
Kebutuhan di luar biaya hidup rutin tetap harus diantisipasi melalui tabungan darurat, khususnya guna menghadapi pengeluaran mendadak seperti tagihan medis tak terduga atau risiko kehilangan pekerjaan.
Para perencana keuangan menyarankan alokasi dana darurat disiapkan setara tiga hingga enam bulan pengeluaran rutin. Namun, pos dana darurat ini tidak disarankan bercampur di rekening utama, melainkan ditempatkan pada instrumen terpisah yang tetap likuid, seperti rekening tabungan berbunga tinggi.






