Sebanyak 20 sensor pengukur tsunami (tsunami gauge) milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di kawasan Selat Sunda tidak mendeteksi anomali muka air laut menyusul aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Temuan tersebut membantah narasi di media sosial yang mengeklaim munculnya status darurat tsunami di kawasan pesisir Banten dan Lampung.
Klaim keliru tersebut awalnya disebarkan oleh akun Facebook "R Morris Sihotang" pada Minggu (6/9/2026). Unggahan itu menyebut sejumlah wilayah berisiko tinggi diterjang tsunami, mulai dari pesisir Lampung, Anyer, Pandeglang, Kota Serang, hingga gugusan pulau di Selat Sunda. Hingga Selasa (8/9/2026), kiriman itu telah mengumpulkan 182 komentar dan dibagikan ulang sebanyak 41 kali.
Hasil Pemantauan Badan Geologi dan BMKG
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa status Gunung Anak Krakatau saat ini memang berada di Level III (Siaga). Kendati demikian, otoritas tidak pernah mengeluarkan peringatan ataupun status darurat tsunami untuk wilayah pesisir di sekitarnya.
WMO Peringatkan Ancaman Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Terhadap Kualitas Udara Global

Berdasarkan rekaman pos pengamatan, episode erupsi menerus yang sempat berlangsung sekitar 25 jam sejak 4 September 2026 telah rampung pada 6 September 2026. Karakteristik aktivitas vulkanik kemudian kembali menunjukkan pola erupsi strombolian.
BMKG turut memperkuat hasil evaluasi lapangan lewat analisis High-Frequency Radar (HF Radar) di stasiun Carita dan Tanjung Lesung. Alat pemantau tersebut menunjukkan potensi timbulnya tsunami akibat aktivitas gunung api berada pada kategori rendah, yakni di bawah 40 persen, dengan tinggi gelombang laut yang tetap terpantau normal di kisaran satu meter. BMKG hanya mencatat fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik yang sejalan dengan peningkatan sambaran petir vulkanik pada sensor di Lampung Selatan dan Serang dalam rentang waktu 12 jam.
51.591 Rumah Terdampak Gempa M7,7 NTT Selesai Diverifikasi BNPB

Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan bahwa pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil, sehingga tidak memiliki potensi keruntuhan skala masif yang mampu memicu gelombang tsunami. Badan Geologi tetap mengingatkan masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi rekomendasi keselamatan resmi dengan tidak mendekati area kawah dalam radius 3 kilometer.






