Musim rilis laporan keuangan paruh pertama tahun 2026 menjadi perhatian besar bagi para pelaku pasar modal di Indonesia. Kinerja keuangan emiten sektor pertambangan terbukti menjadi salah satu pendorong utama pergerakan harga saham di sektor ini. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa sentimen laporan keuangan kuartal kedua tahun 2026 bertindak sebagai salah satu katalis utama yang memicu pergerakan harga saham, terutama untuk emiten tambang. Investor perlu mengamati berbagai indikator operasional di balik pergerakan ini agar dapat melihat saham mana yang paling prospektif.
Secara akumulatif, pendapatan para emiten pertambangan logam diproyeksikan mencapai US$4,5 miliar pada paruh pertama tahun 2026. Menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, proyeksi pendapatan pada kuartal kedua tahun 2026 tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 12% secara kuartalan. Selain itu, angka ini juga menunjukkan kenaikan signifikan hingga 38% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan ini dinilai belum mencerminkan pemulihan volume produksi secara luas. Peningkatan kinerja tersebut lebih ditopang oleh faktor harga jual produk, waktu penjualan, pergerakan persediaan, serta bauran produk.
Dalam menentukan saham tambang yang paling menarik untuk paruh kedua tahun 2026, riset BRI Danareksa Sekuritas menggunakan tiga kriteria utama dalam mengevaluasi emiten. Kriteria pertama adalah kemampuan menghasilkan laba atau earnings delivery. Kriteria kedua adalah ketahanan terhadap risiko kebijakan atau policy insulation. Kriteria ketiga adalah visibilitas eksekusi bisnis atau execution visibility. Berdasarkan pertimbangan tersebut, pihak sekuritas lebih memilih beberapa saham yang dinilai memiliki prospek menarik. Saham-saham pilihan tersebut meliputi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), PT Timah (Persero) Tbk (TINS), AMMN, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), NCKL, MBMA, dan BRMS.
Pertamina Kejar Seluruh SPBU Salurkan B50 pada Akhir September

Terkait pergerakan saham sektor pertambangan pelat merah, indikasi pemulihan mulai terlihat di pasar. Nafan Aji Gusta mencatat bahwa saham-saham tambang milik negara mulai menunjukkan indikasi rebound. Kendati demikian, penguatan harga saham tersebut masih bersifat selektif dan belum sepenuhnya membentuk tren naik yang kuat. Sebagai gambaran kinerja, dua anak usaha MIND ID telah menyampaikan laporan keuangan mereka per 30 Juni. Kedua perusahaan tersebut, yaitu INCO dan TINS, terpantau mengalami peningkatan pada pos pendapatan baris atas atau top-line.
Kinerja spesifik dari PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan pencatatan laba periode berjalan pada semester pertama tahun 2026 yang tumbuh sangat pesat. Laba INCO naik lebih dari empat kali lipat menjadi US$104,37 juta atau setara dengan Rp1,89 triliun. Angka laba tersebut terbang 313,4% dibandingkan dengan pencapaian pada semester pertama tahun 2025 yang hanya sebesar US$25,24 juta. Di sisi lain, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Pencapaian TINS ini telah melampaui target laba bersih setahun penuh yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun, atau mencapai 169% dari target.
Inalum Raih Peringkat BBB- Outlook Stabil dari S&P Global Ratings

Sentimen positif dari laporan keuangan ini langsung tecermin pada pergerakan harga saham di pasar modal pada penutupan perdagangan Sesi I hari Jumat, 31 Juli 2026. Saham PT Vale Indonesia (Persero) Tbk (INCO) tercatat menguat sebesar 7,65% ke level Rp5.275 per lembar saham. Saham PT Timah Tbk (TINS) juga mengalami kenaikan sebesar 5,62% ke level Rp3.760 dalam periode yang sama. Sementara itu, saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami kenaikan tipis sebesar 0,35% ke level Rp2.870. Namun, tidak semua saham tambang merespons secara positif, di mana saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) terpantau stagnan di harga Rp2.350.






