Aktivitas seismik di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan tren penurunan yang signifikan memasuki pekan keempat pascagempa awal berkekuatan M 7,7 pada 15 Agustus 2026. Seiring meredanya guncangan susulan, jumlah pengungsi kini tersisa 72.864 jiwa, turun drastis dari puncak pengungsian yang sebelumnya mencapai 179.037 jiwa.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan bahwa penurunan jumlah warga di posko pengungsian terjadi karena masyarakat dengan rumah berkategori rusak ringan dan sedang mulai kembali ke kediaman masing-masing. Hingga hari ke-24 pascabencana, tercatat total 13.156 kejadian gempa, dengan frekuensi pada pekan keempat menurun tajam menjadi 364 kali kejadian yang sebagian besar tidak dirasakan secara signifikan. Kondisi kestabilan seismik di Flores diperkirakan akan tercapai penuh dalam kurun waktu sekitar satu bulan mendatang.
Berdasarkan data penanganan bencana, dampak gempa Flores mengakibatkan 48 korban meninggal dunia secara langsung. Selain itu, terdapat 87 korban meninggal tidak langsung yang dipengaruhi oleh kebutuhan perawatan medis lanjutan, penyakit bawaan, maupun faktor alami.
Rumah di Bogor Kebakaran, Diduga Dipicu Alat Semprot Memanas

Pemulihan Layanan Dasar dan Infrastruktur
Kondisi fasilitas publik di kawasan terdampak kini berangsur normal. Layanan vital seperti jaringan listrik, telekomunikasi, pasokan bahan bakar minyak (BBM), air bersih, serta akses transportasi utama telah berfungsi kembali. Kapal rumah sakit TNI AL yang sempat dikerahkan juga telah ditarik kembali ke pangkalan menyusul kesiapan fasilitas kesehatan darat setempat dalam menangani pasien.
Distribusi logistik terus berjalan dengan total 2.142 ton bantuan yang telah disalurkan ke seluruh penjuru Flores melalui pintu masuk Labuan Bajo dan Maumere. Seiring stabilnya jalur pasokan, posko logistik nasional di Halim telah ditutup dan operasional bantuan kini dipusatkan di gudang BNPB Jatiasih.
Kebakaran Lahan di Seberang TPA Galuga Bogor, Damkar Lakukan Penanganan

Verifikasi Hunian dan Transisi Tanggap Darurat
Terkait pendataan tempat tinggal, BNPB telah memverifikasi 46.117 unit rumah dari total 102.384 unit yang dilaporkan mengalami kerusakan. Bagi warga yang rumahnya mengalami rusak berat, disiapkan hunian sementara (huntara) berbahan GRC. Khusus di Kabupaten Ngada, rancangan huntara disesuaikan dengan karakteristik kearifan lokal atas permintaan warga setempat.
Dengan situasi lapangan yang semakin kondusif serta aktivitas warga seperti nelayan di Kecamatan Riung yang mulai melaut kembali, kekuatan personel pusat dari TNI dan Polri mulai ditarik bertahap. Penanganan lapangan kini dialihkan kepada Forkopimda NTT, dan pusat informasi penanganan gempa digeser ke Jakarta. Saat ini Pemerintah Provinsi NTT tengah berkoordinasi untuk merampungkan masa tanggap darurat dan beralih ke tahapan rehabilitasi serta rekonstruksi menyeluruh.






