Pertanyaan mengenai kelangsungan gencatan senjata di Jalur Gaza kembali mengemuka setelah militer Israel melancarkan serangan udara terbaru pada Minggu (23/8). Serangan tersebut memicu korban jiwa dari kalangan warga sipil di tengah kesepakatan jeda pertempuran yang sedang berjalan.
Berikut adalah rangkaian fakta dan jawaban atas pertanyaan utama seputar peristiwa penyerangan di Gaza tersebut.
Apa yang Terjadi dalam Serangan Udara di Gaza pada Minggu (23/8)?
Militer Israel melancarkan dua serangan udara di wilayah Jalur Gaza pada Minggu (23/8). Serangan ini menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai tujuh orang lainnya.
Salah satu serangan menghantam sebuah bangunan di Zawayda, wilayah Gaza tengah. Menurut keterangan warga, serangan terjadi tidak lama setelah militer Israel menginstruksikan pemilik bangunan untuk mengosongkan lokasi. Ledakan tersebut melontarkan puing dan serpihan logam hingga puluhan meter. Serangan kedua menyasar area Kamp Pengungsi Nuseirat yang berada tidak jauh dari lokasi pertama dan turut menimbulkan korban.
Sebelum serangan tersebut, pada Sabtu (22/8) malam, militer Israel juga mengeklaim telah menewaskan seorang anggota senior Hamas bernama Sharif Al-Hasnat di Deir Al-Balah.
Pemkab Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata ke Puncak & Cibinong-Depok

Siapa Korban dalam Serangan di Zawayda dan Nuseirat?
Petugas medis mengonfirmasi bahwa serpihan ledakan di Zawayda melukai setidaknya enam orang. Salah satu korban luka, seorang anak laki-laki berusia empat tahun bernama Mohammad Abdel-Salam Taha, meninggal dunia setelah dilarikan ke rumah sakit. Secara keseluruhan, rangkaian serangan udara hari itu menyebabkan sedikitnya dua orang tewas dan tujuh orang mengalami luka-luka.
Mengapa Israel Melancarkan Serangan Tersebut?
Pihak Israel melancarkan serangan menyusul ancaman eskalasi operasi militer sebagai respons atas peluncuran balon, drone, dan layang-layang dari Gaza menuju wilayah Israel.
Di sisi lain, Hamas menuduh Israel melanggar ketentuan gencatan senjata serta berupaya menghambat pelaksanaan rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza.
Bagaimana Status Gencatan Senjata di Gaza Saat Ini?
Kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat sejatinya telah menghentikan pertempuran skala besar di Gaza sejak Oktober 2025. Kendati demikian, insiden kekerasan bersenjata masih terus terjadi.
Karhutla di Pekanbaru Bikin Kualitas Udara Memburuk, Siswa TK-SMP Belajar Daring

Data dari pejabat kesehatan Gaza mencatat lebih dari 1.280 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata dimulai pada Oktober 2025. Pada rentang waktu yang sama, militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas.
Apakah Ada Insiden Kekerasan Terkait di Wilayah Tepi Barat?
Eskalasi juga berlangsung di Tepi Barat yang diduduki Israel. Kepolisian dan militer Israel melaporkan seorang pria Israel terluka akibat penikaman di dekat Jericho oleh seseorang yang diduga warga Palestina.
Selain itu, pejabat kesehatan Palestina melaporkan bahwa seorang remaja berusia 14 tahun, Islam Ajjouri, tewas ditembak pasukan Israel dalam operasi militer di Kamp Pengungsi Askar, dekat Nablus.
Wilayah Tepi Barat saat ini dihuni oleh sekitar 3 juta warga Palestina dan sekitar 500 ribu pemukim Israel. Badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama mayoritas negara di dunia memandang pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan tersebut melanggar hukum internasional, pandangan yang secara konsisten ditolak oleh Israel.






