Sempat membuka hari di zona hijau, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berbalik melemah pada akhir perdagangan Jumat (4/9/2026). Indeks komposit ditutup turun 31,42 poin atau 0,47 persen ke level 6.636,48, menghapus penguatan yang sempat terbentuk pada sesi awal.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG awalnya dibuka di posisi 6.695,69 dan sempat menyentuh level tertinggi hariannya pada 6.704,13. Namun, aksi jual mendominasi hingga indeks tertekan ke level terendah 6.633,93 menjelang penutupan pasar.
Secara keseluruhan, pasar menunjukkan dominasi sentimen negatif dengan 363 saham melemah, berbanding 256 saham yang mampu menguat, serta 172 saham bergerak stagnan. Total volume perdagangan tercatat mencapai 35,80 miliar saham, dengan nilai transaksi harian menyentuh kisaran Rp15,04 triliun.
Pertamina Mulai Siapkan Infrastruktur E20

Koreksi IHSG dipicu oleh penurunan pada mayoritas sektor saham. Tekanan terdalam terjadi pada sektor konsumer, kesehatan, industri, dan teknologi. Di sisi lain, sektor energi bergerak melawan arus dengan membukukan kenaikan tertinggi sepanjang sesi. Penurunan indeks juga dipengaruhi oleh pelemahan sejumlah emiten berkapitalisasi besar, khususnya BBCA, ASII, BMRI, VKTR, dan BBRI yang menjadi beban utama pergerakan bursa hari ini.
Pelemahan indeks terjadi di tengah sejumlah perkembangan kebijakan domestik dan sinyal ekonomi global. Di dalam negeri, Bank Indonesia telah menaikkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi 6 persen mulai September, dengan total insentif yang diterima perbankan mencapai Rp446,5 triliun. Pada saat yang sama, pemerintah menegaskan bahwa pembiayaan untuk program Koperasi Desa Merah Putih dipastikan tidak akan berubah menjadi kredit bermasalah bagi industri perbankan.
Transaksi & Ekosistem Terus Tumbuh, Kinerja BMRI Tetap Solid

Dari ranah internasional, pasar mencermati sentimen dari Amerika Serikat menyusul pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang mendukung penahanan suku bunga acuan pada level saat ini untuk September, sepanjang data inflasi tidak menunjukkan lonjakan tak terduga. Di samping itu, aktivitas sektor jasa AS terpantau tetap kuat, tecermin dari data ISM Services PMI Agustus yang berada di level 55,4.






