Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memperingatkan bahwa harga beras di Indonesia berisiko melonjak hingga mencapai Rp16.000 hingga Rp20.000 per kilogram apabila ketergantungan terhadap impor komoditas pangan terus dibiarkan berlangsung.
Peringatan tersebut disampaikan pria yang akrab disapa Zulhas itu saat peluncuran buku Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggul di JCC Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (4/9).
Menurut Zulhas, tingginya potensi lonjakan harga berkaitan erat dengan struktur biaya produksi di dalam negeri yang belum efisien. Biaya untuk menghasilkan satu kilogram beras di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai Rp12.000. Angka tersebut jauh melampaui biaya produksi di Thailand maupun Vietnam yang berada di kisaran Rp3.800 per kilogram.
Pertamina Mulai Siapkan Infrastruktur E20

Perbedaan biaya yang mencolok ini dipengaruhi oleh adopsi teknologi pertanian, penggunaan varietas tanaman baru, serta manajemen pengolahan sawah yang membuat produktivitas negara tetangga jauh lebih tinggi.
Ketergantungan Indonesia pada pasokan luar negeri tercermin dari volume impor pangan sepanjang 2024. Zulhas memaparkan bahwa Indonesia mendatangkan 4,5 juta ton beras, sekitar 1 juta ekor sapi per tahun, 4 juta ton kedelai, dan rata-rata 6 juta ton gula. Selain itu, impor gandum tercatat mencapai sekitar 13 juta ton karena komoditas tersebut tidak dapat dibudidayakan di Indonesia. Angka konsumsi gandum ini melonjak signifikan dibandingkan periode 2004 saat ia bertugas di DPR, yang kala itu baru sekitar 3 hingga 4 juta ton.
Masalah pasokan dalam negeri juga dipicu oleh ketergantungan bibit. Zulhas menyoroti bahwa hampir seluruh benih tanaman pangan yang digunakan merupakan bibit impor sekali pakai.
Kemensos Tegaskan Kenaikan Desil Tak Otomatis Bikin Bansos Hilang

Kesenjangan produktivitas terlihat nyata pada komoditas kedelai. Lahan kedelai di Indonesia rata-rata hanya menghasilkan sekitar 1 ton per hektare dengan bibit yang ada, sedangkan negara lain yang menerapkan teknologi rekayasa genetika mampu memproduksi hingga 10 ton per hektare. Rendahnya hasil panen lokal ini menyebabkan harga kedelai di pasar domestik bisa melonjak tiga hingga empat kali lipat lebih mahal.
Menghadapi tantangan ketahanan pangan tersebut, pemerintah berencana menjalankan program swasembada secara bertahap. Langkah penguatan produksi mandiri ini difokuskan terlebih dahulu pada beras dan jagung, sebelum diperluas ke komoditas gula, garam, ikan, hingga daging.






