Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, memberikan penjelasan resmi mengenai sikap pemerintah yang dinilai berhak untuk memberikan kritik balik kepada para pengkritik. Dalam keterangannya, Hasan menegaskan secara lugas bahwa langkah pemerintah untuk merespons kritik tersebut sama sekali tidak ditujukan kepada masyarakat secara umum. Ia menyatakan bahwa sasaran dari kritik balik pemerintah secara khusus ditujukan kepada kelompok-kelompok kritis yang dikategorikan atau diduga sebagai londo ireng. Keterangan dan klarifikasi ini disampaikan secara langsung oleh Hasan Nasbi kepada para awak media saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada hari Jumat, 31 Juli 2026.
Penjelasan dari Hasan Nasbi ini berkaitan erat dengan pernyataannya mengenai konsep kebebasan berpendapat yang sebelumnya sempat viral di berbagai media. Dalam pernyataan yang beredar luas tersebut, Hasan memaparkan bahwa kebebasan berpendapat semestinya berlaku secara dua arah antara publik dan penyelenggara negara. Ia menyampaikan argumen bahwa apabila ada pihak yang diperbolehkan mengata-ngatai pemerintah, maka pemerintah juga memiliki hak yang sama untuk melayangkan kritik balik kepada pihak tersebut sebagai bentuk respons.
Sikap Hasan Nasbi tersebut sekaligus merupakan bentuk pembelaan terhadap ucapan Presiden Prabowo Subianto yang sebelumnya secara terbuka menyinggung keberadaan kelompok londo ireng. Ucapan Presiden Prabowo mengenai istilah tersebut disampaikan saat beliau memberikan pidato dalam acara puncak Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa. Acara peringatan hari lahir partai tersebut diselenggarakan di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada hari Kamis, 23 Juli 2026.
Soal Wacana Ambang Batas Parlemen 5 Persen, PDIP Minta Tetap Patuhi Putusan MK

Lebih rinci mengenai penggunaan istilah londo ireng, Hasan Nasbi menyebut bahwa frasa tersebut merujuk pada sebagian pihak yang dinilai memiliki kecenderungan lebih suka bersikap pesimistis dalam melihat kehidupan bangsa. Selain itu, kelompok yang dikategorikan sebagai londo ireng ini juga mencakup pihak-pihak yang memiliki profesi seolah-olah sejalan dengan kepentingan bersama. Istilah ini digunakan untuk mengidentifikasi kelompok yang bertindak seolah mendukung kepentingan publik namun sebenarnya dinilai memiliki pandangan pesimistis.
Sebelumnya, istilah londo ireng ini secara spesifik disebut oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya untuk merujuk pada sejumlah kalangan tertentu. Kalangan yang secara langsung dimaksud oleh Presiden meliputi wartawan, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat yang dinilai kerap mencari-cari kesalahan pemerintah. Menurut penilaian pemerintah, kelompok-kelompok tersebut tidak hanya berupaya mencari celah kesalahan, tetapi juga dianggap memiliki kecenderungan berpihak pada kepentingan asing.
Respons Bahlil Soal Fahd Arafiq Jadi Tersangka Korupsi

Terkait dengan polemik istilah tersebut, Hasan Nasbi memberikan penegasan bahwa pernyataan mengenai londo ireng pada dasarnya hanyalah sekadar peringatan bagi semua pihak. Tujuan utama dari peringatan tersebut adalah agar seluruh elemen masyarakat dapat bersatu dan mendorong persatuan daripada perpecahan. Hasan menegaskan bahwa pemerintah memiliki keinginan kuat untuk memperbanyak kekompakan dan bukan memperbanyak kegaduhan di tengah dinamika kehidupan berbangsa saat ini.
Sebagai bagian dari upaya menjaga kekompakan tersebut, pemerintah menegaskan haknya untuk memberikan klarifikasi maupun melayangkan kritik kepada pihak-pihak yang dinilai menyampaikan informasi yang tidak tepat. Hasan menekankan bahwa bangsa ini harus memperbanyak optimisme dan secara bersamaan mengurangi sikap pesimisme. Melalui peningkatan kepercayaan diri terhadap bangsa dan penghilangan rasa pesimistis, pemerintah meyakini bahwa langkah tersebut akan memungkinkan bangsa Indonesia untuk bisa maju dengan lebih cepat.






