Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatatkan lonjakan yang signifikan pada perdagangan hari Kamis, 30 Juli 2026. Kenaikan ini berhasil mengakhiri tren pelemahan yang sempat membayangi pasar saham domestik. Untuk memahami lebih lanjut mengenai dinamika pasar modal ini, berikut adalah rangkuman tanya jawab seputar pergerakan indeks dan sentimen yang memengaruhinya.
Bagaimana rincian pergerakan IHSG pada sesi perdagangan tersebut?
Hingga pukul 10.10 WIB pada hari Kamis, 30 Juli 2026, posisi IHSG terpantau berada di level 6.158,56. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 1,1 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level 6.091,38. Sepanjang sesi pagi pada hari itu, pergerakan indeks tercatat aktif pada rentang level 6.106 hingga 6.168.
Berapa nilai transaksi dan volume perdagangan yang tercatat di bursa?
Aktivitas pasar tergolong sangat ramai. Nilai transaksi berhasil menembus angka sekitar Rp 4,38 triliun. Adapun volume perdagangan mencapai 9,82 miliar lembar saham yang tersebar dalam 608 ribu kali transaksi. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 471 saham terpantau mengalami penguatan, 152 saham mengalami pelemahan, dan 153 saham lainnya bergerak secara stagnan.
Saham dan sektor apa saja yang menjadi penopang utama penguatan indeks?
Bursa Mineral ICOMEX Bakal Dibentuk Hari Ini, Beroperasi 4 Januari 2027

Kenaikan indeks pada hari tersebut sangat didorong oleh performa kuat dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. Beberapa saham unggulan yang menjadi penyokong utama pergerakan indeks meliputi saham Bank Central Asia (BBCA), Telkom Indonesia (TLKM), Bank Mandiri (BMRI), Amman Mineral (AMMN), serta Bank Negara Indonesia (BBNI). Di sisi lain, saham-saham yang paling aktif ditransaksikan oleh para investor mencakup TPIA, BBCA, BBRI, BUMI, dan BMRI.
Dari sisi sektoral, penguatan paling tajam berhasil dibukukan oleh sektor barang baku, sektor konsumer, dan sektor finansial. Sebaliknya, hanya sektor utilitas dan sektor kesehatan yang tercatat mengalami penurunan pada sesi perdagangan tersebut.
Mengapa IHSG bisa mengalami lonjakan setelah sempat tertekan cukup lama?
Kenaikan tajam ini terjadi sebagai bentuk pembalikan arah setelah IHSG mengalami pelemahan secara berturut-turut selama enam hari perdagangan sebelumnya. Pembalikan ini juga bertepatan dengan adanya sentimen domestik yang positif, salah satunya ditandai dengan momen pembukaan pameran otomotif GIIAS 2026 yang diselenggarakan di ICE BSD.
Bagaimana pengaruh sentimen global, terutama dari Amerika Serikat dan Timur Tengah?
The Fed Naikkan Suku Bunga, Bursa Asia Kompak Menguat

Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh berbagai sentimen global. Di kawasan Timur Tengah, ketegangan mengalami eskalasi yang cukup tajam setelah sebuah kapal tanker gas milik Amerika Serikat dihantam oleh drone di wilayah Mesir. Insiden ini kemudian disusul oleh aksi saling serang menggunakan rudal yang melibatkan Iran, militer Amerika Serikat, dan Arab Saudi. Konflik geopolitik ini secara langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent terpantau naik 7,9 persen menjadi US$ 90,74 per barel, sementara harga minyak WTI naik 6,56 persen ke posisi US$ 84,46 per barel.
Di Amerika Serikat, bank sentral atau The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen, namun tetap menunjukkan sikap hawkish yang kuat. Keputusan ini beriringan dengan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 30 tahun sebesar 10 basis poin hingga melewati level 5,2 persen. Angka tersebut merupakan level tertinggi yang pernah dicapai sejak tahun 2007. Para pelaku pasar juga sedang mencermati proyeksi data inflasi PCE Amerika Serikat untuk bulan Juni yang diperkirakan akan tumbuh pada angka 3,7 persen secara tahunan.
Bagaimana dengan pergerakan saham teknologi global dan bursa saham Asia lainnya?
Di sektor teknologi global, pergerakan saham menunjukkan hasil yang bervariasi. Saham Meta Platforms dilaporkan anjlok sebesar 7 persen akibat rilis proyeksi pendapatan yang lebih lemah dari ekspektasi serta tingginya biaya investasi perusahaan. Sebaliknya, saham Microsoft justru melonjak 8 persen yang didorong oleh pertumbuhan kuat pada lini bisnis komputasi awan Azure.
Sementara itu, sebagian besar bursa utama di kawasan Asia-Pasifik justru menunjukkan pelemahan pada hari Kamis, 30 Juli 2026. Indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,25 persen, indeks Topix turun 0,59 persen, indeks Kosdaq di Korea Selatan terkoreksi 0,73 persen, dan indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,26 persen. Meski bursa regional mayoritas melemah, indeks Kospi di Korea Selatan berhasil mencatatkan penguatan sebesar 0,89 persen setelah sempat mengalami penurunan yang tajam pada hari perdagangan sebelumnya.






