Sekitar 27.000 dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat ini telah beroperasi di berbagai daerah di Indonesia. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat bahwa sebagian besar dapur penyedia tersebut telah menjalankan kegiatan operasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. Untuk menjaga konsistensi mutu, evaluasi rutin terus dilakukan melalui inspeksi langsung ke dapur-dapur penyedia makanan guna memeriksa kualitas menu, standar penyajian, hingga tingkat penerimaan siswa terhadap makanan yang disajikan.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas program, Kepala BGN Sudaryono berencana menambahkan modul kandungan gizi untuk anak sekolah yang nantinya disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sudaryono menegaskan bahwa MBG merupakan program makan bergizi gratis dan bukan program makan enak gratis atau makanan kesukaan gratis, meskipun pihak penyedia tetap berupaya menjaga cita rasa yang enak serta ukuran porsi yang sesuai.
Evaluasi Dapur MBG dan Penguatan Koordinasi SPPG
Pelaksanaan program MBG di berbagai daerah terus didorong agar memiliki tata kelola yang terintegrasi. BGN berkomitmen untuk memperkuat koordinasi dan mengeliminasi sumbatan komunikasi dengan kementerian dan instansi terkait, baik di tingkat pusat maupun daerah. Kerja sama tersebut mencakup keterlibatan Kementerian Kesehatan, dinas kesehatan daerah, Kementerian Pendidikan, hingga dinas pendidikan setempat agar seluruh proses berjalan sinkron.
Perkembangan Pembangunan Infrastruktur Dasar IKN Nusantara dan Progres Fasilitas KIPP

Selain evaluasi mutu di dapur penyedia, modul edukasi mengenai kandungan gizi yang disalurkan melalui SPPG disiapkan sebagai bagian dari penguatan literasi nutrisi peserta didik. Langkah ini melengkapi pemenuhan kebutuhan gizi harian dengan pemahaman yang lebih terarah mengenai pola konsumsi sehat.
Penajaman Sasaran Wilayah 3T dan Kelompok Rentan 3B
Badan Gizi Nasional juga secara resmi mengevaluasi penyaluran MBG khusus bagi kelompok sekolah elite. Langkah penajaman sasaran (refocusing) ini diambil agar anggaran negara dapat diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu. Sebelumnya, program MBG disalurkan ke seluruh anak sekolah tanpa membeda-bedakan apakah sekolah tersebut masuk dalam kategori golongan bawah, menengah, ataupun atas.
Sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, program MBG difokuskan pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B). Sebagai penegasan atas kebijakan tersebut, BGN telah menerbitkan surat edaran yang menyatakan bahwa unit SPPG yang tidak melayani sasaran kelompok 3B akan ditangguhkan.
Kebijakan Tarif PPN 12 Persen Kementerian Keuangan Dibatasi Khusus Barang Mewah

Implementasi Program dan Pola Makan Siswa di Kota Bogor
Pelaksanaan program di lapangan ditinjau langsung oleh Sudaryono saat mengunjungi SDN Bantarjati 9 di Kota Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (24/7/2026). Peninjauan tersebut menunjukkan adanya dampak positif program terhadap kebiasaan konsumsi peserta didik di lingkungan sekolah dasar.
Kepala SDN Bantarjati 09 Kota Bogor Sugiartini menyampaikan bahwa program MBG telah mengubah kebiasaan makan para siswa secara nyata. Siswa yang sebelumnya terbiasa melewatkan sarapan kini mulai rutin makan pagi sebelum memulai aktivitas belajar. Selain itu, anak-anak yang semula tidak menyukai sayuran kini mulai terbiasa memakannya. Dari ragam makanan yang disajikan, menu yang paling diminati oleh peserta didik di sekolah tersebut antara lain olahan ayam, telur, burger, dan buah-buahan segar.






