Proses evakuasi korban insiden kebakaran Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep terus menunjukkan perkembangan yang signifikan melalui kerja keras tim gabungan. Hingga Senin (3/8) dini hari, tercatat sebanyak 122 korban telah berhasil dipulangkan dengan selamat ke daratan. Upaya penyelamatan ini dilakukan secara terpadu dengan memusatkan pendaratan melalui dua titik pelabuhan utama di wilayah Jawa Timur, yakni Pelabuhan Tanjung Perak di Kota Surabaya dan Pelabuhan Kalianget di Kabupaten Sumenep. Berdasarkan catatan akhir dari operasi gabungan ini, secara keseluruhan terdapat 232 orang yang berhasil dievakuasi dari KMP Mutiara Sentosa II.
Kepala Kantor SAR Surabaya yang sekaligus bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), Nanang Sigit PH, memimpin langsung jalannya koordinasi evakuasi di lapangan. Berdasarkan pembaruan data dari tim SAR gabungan, mayoritas korban, yaitu sebanyak 113 orang, dievakuasi dan didaratkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak. Sementara itu, sembilan korban lainnya berhasil dibawa merapat ke Pelabuhan Kalianget dengan bantuan dari armada kapal negara KN SAR 249 Permadi. Dalam pelaksanaan operasi penyelamatan ini, Kementerian Perhubungan juga turut mengerahkan kapal patroli Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) untuk memaksimalkan proses evakuasi korban kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep tersebut.
Di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, proses penurunan penumpang dilakukan dengan sistem prioritas demi alasan keselamatan dan kelancaran penanganan. Nanang menjelaskan bahwa sebanyak 111 korban selamat didahulukan untuk turun dari kapal KM Meratus Pematang Siantar. Setelah turun dari kapal, para korban tersebut langsung dibawa menuju Terminal Gapura Surya Nusantara. Di fasilitas terminal penumpang ini, petugas gabungan segera melaksanakan proses pendataan secara menyeluruh. Setibanya di darat, seluruh korban langsung mendapatkan pemeriksaan kesehatan intensif dari tim medis yang telah bersiaga di pelabuhan guna memastikan kondisi fisik mereka tetap stabil setelah insiden yang terjadi di laut.
Kasus Influenza Melonjak di Surabaya, Ruang Rawat Anak RS Penuh

Penanganan medis lanjutan juga menjadi fokus utama tim penyelamat bagi korban yang membutuhkan perawatan lebih spesifik. Petugas telah menyiapkan rujukan ke rumah sakit terdekat untuk mengantisipasi kondisi darurat. Di wilayah Sumenep, empat korban telah dirujuk ke RS Garam untuk mendapatkan penanganan kesehatan lebih lanjut. Adapun lima korban lainnya yang juga mendarat di Pelabuhan Kalianget langsung diberangkatkan menuju Surabaya sesaat setelah proses pendataan oleh petugas dinyatakan selesai. Meskipun 122 korban telah tiba di daratan, operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung. Masih terdapat tiga kapal yang sedang dalam perjalanan menuju Surabaya dengan membawa korban lainnya, yaitu KM Ferindo 1, Selaras Mas, dan KRI Nala-363.
Insiden kebakaran transportasi air ini menambah deretan peristiwa kedaruratan yang ditangani secara intensif oleh pihak berwenang di Indonesia. Di lokasi terpisah, Unit Reskrim Polsek Kawasan Sunda Kelapa menyelidiki penyebab kebakaran yang menghanguskan tiga kapal di Dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, pada Minggu (19/7). Kebakaran yang diduga kuat diakibatkan oleh korsleting listrik saat kapal sedang melakukan perbaikan tahunan di kawasan Muara Baru tersebut menimbulkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp1,5 miliar. Pihak berwenang memastikan bahwa kapal-kapal yang terbakar itu bukan milik Kantor SAR Jakarta, melainkan sedang berada di perusahaan perbaikan saat insiden terjadi.
Kapal Virgo Tenggelam, Prabowo Minta Investigasi Menyeluruh

Selain rentetan kecelakaan di laut, operasi penyelamatan di berbagai wilayah Indonesia juga menangani insiden di sektor lain dengan tingkat tantangan yang tidak kalah berat. Sebagai contoh, Basarnas menyatakan bahwa proses evakuasi korban insiden kebakaran KM Barcelona 5 di perairan Talise, Sulawesi Utara, kini telah berada pada fase akhir penanganan. Di sektor transportasi udara, operasi pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK THT di Pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan, resmi ditutup pada Jumat (23/1) malam. Operasi penyelamatan pesawat tersebut sebelumnya diwarnai dengan tingkat kesulitan ekstrem akibat cuaca buruk dan kondisi medan yang sangat berat di lokasi kejadian.






