JAKARTA — PT Bank CIMB Niaga Tbk memproyeksikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) masih berpotensi naik satu kali lagi pada tahun ini sebelum tren pengetatan moneter tersebut menyentuh puncaknya. Kondisi suku bunga yang tinggi serta fluktuasi nilai tukar rupiah menuntut penyesuaian strategi alokasi aset bagi para investor.
WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, menyampaikan bahwa setelah potensi kenaikan tahun ini, suku bunga acuan diperkirakan tidak lagi mengalami lonjakan signifikan pada tahun berikutnya. Seiring dengan pergerakan suku bunga yang mendekati titik puncak, pasar surat berharga negara mulai menawarkan imbal hasil yang kian kompetitif.
Peluang Imbal Hasil di Pasar Obligasi
Pada kuartal II, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Indonesia tercatat berada di level 7,16%. CIMB Niaga memiliki proyeksi yang cukup konservatif, dengan perkiraan yield obligasi Indonesia dapat mencapai level 7,5% dengan memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Pengusaha Buka-bukaan Kondisi Berat Bisnis Galangan Kapal

Secara mekanisme pasar, terdapat hubungan terbalik antara yield dan harga obligasi. Saat imbal hasil meningkat, harga obligasi di pasar sekunder mengalami tekanan. Kondisi ini memberikan ruang bagi investor untuk mengunci imbal hasil tinggi, terutama pada surat utang negara.
Sebagai gambaran, instrumen obligasi pemerintah seri FR100 saat ini menawarkan yield to maturity di kisaran 7% hingga 7,1%. Sementara itu, obligasi negara dengan tenor sekitar lima tahun memiliki yield pada rentang 6,7% hingga 6,8%.
Diversifikasi Aset Valas Redam Volatilitas Rupiah
Selain faktor suku bunga, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi volatilitas yang dipicu oleh faktor eksternal, termasuk potensi arus modal keluar (capital outflow) dan ketidakpastian geopolitik global.
BNI wondrX 2026 Dikunjungi 100 Ribu Orang, Transaksi Capai Rp2,73 T

Terkait proyeksi nilai tukar, konsensus Bloomberg memperkirakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS. Di sisi lain, CIMB Niaga menetapkan proyeksi yang lebih konservatif di level Rp18.300 per dolar AS.
Guna memitigasi risiko nilai tukar tersebut, pemodal disarankan melakukan diversifikasi ke aset yang tidak berdenominasi rupiah. Beberapa instrumen yang dinilai prospektif untuk melindungi nilai portofolio di antaranya adalah reksa dana global syariah serta reksa dana pendapatan tetap berbasis dolar AS.






