Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dipastikan tidak mengancam habitat orangutan. Penegasan tersebut disampaikan oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat melakukan peninjauan langsung ke wilayah tersebut guna memantau penanganan karhutla di lapangan.
Dalam keterangannya pada Rabu (26/8), Raja Juli menyatakan kedatangannya ke Berau bertujuan memastikan bencana karhutla tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun kelangsungan satwa liar. Ia menekankan pentingnya perlindungan terhadap satwa langka tersebut, mengingat orangutan merupakan kebanggaan Kalimantan Timur, Berau, hingga dunia.
Kondisi cuaca pada tahun ini dinilai memerlukan kewaspadaan ekstra. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena El Nino dilaporkan datang lebih cepat dengan skala yang sangat kuat. Raja Juli menyebutkan bahwa siklus El Nino biasanya berulang setiap empat tahun sekali, sebagaimana tercatat pada periode 2015, 2019, dan 2023. Perubahan iklim membuat siklus tersebut tiba lebih cepat dari perkiraan.
Prabowo Naikkan Anggaran PPATK, Perkuat Kapasitas Intelijen Keuangan

Menghadapi potensi ancaman api, Kementerian Kehutanan meminta kawasan habitat orangutan dikawal ketat melalui patroli rutin. Sebagai langkah penyelamatan jangka panjang, pemerintah menyiapkan area preservasi koridor orangutan pada lanskap Keraitan. Upaya ini dijalankan bekerja sama dengan Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang dikelola Conservation Action Network (CAN) bersama sejumlah mitra konservasi lainnya.
Populasi orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) saat ini berada dalam kondisi yang rentan. Berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016 yang dihimpun bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI serta praktisi konservasi, populasi satwa ini di Kalimantan diperkirakan tersisa sekitar 57.350 individu. Catatan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation menunjukkan bahwa populasi orangutan telah mengalami penurunan hingga 80 persen dalam kurun waktu kurang dari 50 tahun, dari estimasi sebanyak 288.500 individu pada 1973.
Kiai Sepuh Serukan Muktamirin Jaga Marwah-Hindari Pertikaian di Muktamar NU

Kendati karhutla di Berau diklaim tidak mengancam habitat setempat, persebaran titik api di wilayah lain tetap menjadi perhatian kalangan pegiat lingkungan. CEO BOS Foundation Jamartin Sihite mengungkapkan bahwa titik api dilaporkan mulai mendekati habitat orangutan di dataran rendah, seperti di Kalimantan Barat serta kawasan sekitar Taman Nasional Sebangau dan Pulang Pisau di Kalimantan Tengah.
Jamartin turut menjelaskan bahwa dampak karhutla tidak hanya berasal dari jilatan api, melainkan juga paparan asap. Asap tebal dapat mengganggu fungsi polinasi lebah dan proses vegetasi hutan. Riset BOS Foundation di pusat penelitian Tuanan menunjukkan bahwa semakin panjang masa kabut asap berlangsung, peluang tanaman hutan untuk berbunga dan berbuah akan semakin menurun, yang pada akhirnya mengancam ketersediaan sumber pakan orangutan.






