Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memastikan bahwa laporan keuangannya saat ini tengah berada dalam tahap audit sebelum dipublikasikan secara terbuka kepada masyarakat. Langkah keterbukaan ini disiapkan sebagai bentuk akuntabilitas lembaga dalam mengelola portofolio serta aset negara yang berada di bawah naungannya.
Managing Director of Global Relations and Communications BPI Danantara, Pahala N Mansury, menegaskan bahwa penyampaian laporan keuangan kepada publik merupakan suatu kewajiban. Danantara berencana mempublikasikan laporan tersebut secara resmi begitu seluruh rangkaian proses audit dan konsolidasi data tuntas dilaksanakan.
Proses konsolidasi tersebut mencakup lebih dari 1.070 entitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki kondisi finansial dan sistem pelaporan beragam. Pahala mengungkapkan bahwa penyusunan laporan keuangan untuk masing-masing perusahaan BUMN sebenarnya telah selesai. Saat ini, Danantara fokus menyatukan seluruh laporan tersebut menjadi satu kesatuan guna memastikan seluruh pencatatan transaksi antarperusahaan (intercompany transactions) tercatat dengan tepat dan rapi.
Nambah 1, Sekarang Perusahaan Gadai Nasional RI Jadi 5

Penerapan Standar Santiago Principles
Untuk menjamin standar dan kecukupan informasi yang disampaikan ke publik, Danantara berencana mengadopsi prinsip global Santiago Principles. Standar ini diharapkan dapat memastikan transparansi yang menyeluruh, tidak hanya pada angka dan data keuangan, tetapi juga pada praktik operasional institusi.
Pahala menambahkan bahwa transparansi yang dibidik Danantara mencakup aspek manajemen risiko (risk management), keberlanjutan (sustainability), serta tata kelola perusahaan yang baik (governance). Keterbukaan standar ini ditargetkan berlaku secara menyeluruh di lingkungan BPI, DIM, maupun DAM.
IHSG Sesi I Tertekan 0,58% ke Level 6.647

Target Rasionalisasi dan Peningkatan Laba BUMN
Selain integrasi pelaporan keuangan, BPI Danantara mengusung agenda penataan portofolio kelembagaan. Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa Danantara menargetkan perampingan jumlah perusahaan di dalam ekosistem BUMN dari 1.074 perusahaan menjadi 254 perusahaan pada akhir 2026.
Dari sisi kinerja profitabilitas, Danantara membidik total laba kelompok perusahaan BUMN meningkat dari kisaran Rp330 triliun menjadi Rp360 triliun pada 2026. Pencapaian target laba ini akan sangat bergantung pada keberhasilan Danantara dalam mengeksekusi sejumlah langkah strategis, seperti restrukturisasi BUMN Karya, transformasi PT Pos, pembenahan tata kelola dana pensiun, dan konsolidasi ratusan anak perusahaan.






