Perkembangan industri ramah lingkungan di Indonesia terus menunjukkan potensi yang besar. Berdasarkan data Kementerian PPN/Bappenas pada tahun 2025, proporsi tenaga kerja hijau di Indonesia baru mencapai sekitar 3,45 juta orang atau setara dengan 2,6% dari total tenaga kerja nasional. Angka ini menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan untuk sektor hijau masih sangat terbuka lebar bagi talenta muda. Terlebih lagi, pemerintah tengah bersiap melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang akan memetakan kondisi perekonomian nasional. Selain itu, implementasi perdagangan karbon yang mulai berjalan pada tahun 2026 diperkirakan akan menciptakan berbagai peluang bisnis baru bagi banyak perusahaan. Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, peluang ini dapat dimanfaatkan dengan mempelajari cara mengembangkan ide bisnis berkelanjutan melalui kompetisi seperti Greenovate yang diinisiasi oleh TBS Foundation.
Langkah pertama untuk mengembangkan bisnis berkelanjutan adalah menentukan fokus inovasi yang relevan dengan tantangan lingkungan saat ini. Dalam ajang Greenovate, ide bisnis yang diajukan oleh para peserta mencakup berbagai isu strategis yang krusial. Mahasiswa dapat merancang inovasi yang bergerak di bidang ekonomi sirkular, energi bersih, ketahanan air, pengelolaan limbah, hingga pengembangan material ramah lingkungan. Dengan menyasar sektor-sektor ini, ide bisnis yang dibangun tidak hanya memiliki nilai komersial tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kelestarian lingkungan. Sebagai gambaran, kompetisi ini telah menarik antusiasme tinggi dengan masuknya lebih dari 150 ide bisnis berkelanjutan yang diajukan oleh lebih dari 400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Deretan Roh Kutukan Terkuat di Jujutsu Kaisen, Dominasi Sukuna hingga Aliansi Kutukan Bencana

Langkah kedua, kolaborasi tim yang kuat dan inklusif menjadi kunci sukses dalam mewujudkan ide bisnis hijau. Untuk mendaftar dalam program pengembangan seperti ini, tim yang dibangun perlu memiliki keberagaman perspektif. Sebagai contoh, dalam ajang Greenovate, setiap tim dari delapan finalis yang berhasil lolos ke babak Grand Final memiliki keterwakilan perempuan. Kedelapan tim terbaik tersebut mewakili berbagai kampus, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Mulawarman, Universitas Palangka Raya, Universitas Sumatera Utara, Universitas Tanjungpura, dan Universitas Cenderawasih. Keterwakilan perempuan juga terlihat menonjol pada jajaran pembimbing, di mana enam dari delapan mentor Greenovate merupakan perempuan yang memiliki pengalaman memimpin di bidang keberlanjutan, bisnis, energi, dan teknologi.
Langkah ketiga dalam mematangkan konsep bisnis adalah mencari bimbingan dari para ahli yang berpengalaman di industri terkait. Program Greenovate memfasilitasi hal ini dengan memberikan sesi mentoring langsung kepada para finalis. Para peserta mendapatkan bimbingan berharga dari para pemimpin di TBS Group beserta anak usahanya, seperti Electrum dan ARAH Environmental Indonesia. Tidak hanya itu, bimbingan juga melibatkan perusahaan eksternal, seperti PT Freeport Indonesia, Unilever Indonesia, dan CarbonX. Melalui proses bimbingan ini, ide bisnis mentah dapat diasah menjadi model bisnis yang lebih matang, siap diimplementasikan, dan memiliki kelayakan pasar yang tinggi di sektor ekonomi hijau.
KPK Tangkap Dirjen ATR/BPN dan Dua Kepala Kantah dalam OTT ke-20 Tahun 2026

Langkah terakhir dari pengembangan ide bisnis dalam sebuah kompetisi adalah mempresentasikan inovasi tersebut di hadapan para panelis dan pemangku kepentingan industri. Puncak dari rangkaian kegiatan Greenovate dijadwalkan berlangsung pada babak Grand Final yang diselenggarakan pada 5 Agustus 2026 di Jakarta. Dalam ajang ini, para peserta berkesempatan memaparkan solusi mereka di hadapan dewan juri yang terdiri dari Gita Sjahrir selaku Managing Director for Investor Relations TBS, Iwan Syahril selaku Member of the Board of Supervisors TBS Foundation, serta Roderick Purwana selaku Managing Partner East Ventures. Executive Director TBS Foundation, Anugraha Dezmercoledi, turut mengawal berjalannya program ini. Mempersiapkan presentasi yang komprehensif dan berbasis data adalah tahap krusial agar inovasi berkelanjutan dapat meyakinkan para penilai dan pemangku kepentingan.






