Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam membangun budaya inovasi di tengah masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyediakan wadah kompetisi yang terstruktur dan berkelanjutan. Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Yusharto Huntoyungo, secara langsung mengapresiasi penyelenggaraan Bantul Innovation Award Tahun 2026. Ajang tersebut dinilai sebagai langkah nyata dalam membangun budaya inovasi di daerah sejak dini. Bagi pemerintah daerah lain yang ingin mereplikasi program serupa untuk menumbuhkan semangat berinovasi, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan berdasarkan pelaksanaan di wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Langkah pertama dalam membudayakan inovasi adalah dengan menyelenggarakan ajang penghargaan secara rutin, terbuka, dan profesional. Proses penjurian harus dilakukan di lokasi yang memadai untuk mendukung presentasi peserta secara maksimal. Sebagai contoh, tahapan penjurian Bantul Innovation Award Tahun 2026 berlangsung di Joglo Ageng Waroeng Omah Sawa, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari Jumat, 31 Juli 2026. Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat memiliki ruang untuk berkompetisi sekaligus memamerkan karya nyata mereka. Kehadiran perwakilan kementerian seperti Kepala BSKDN Kemendagri dalam proses penjurian juga memberikan dorongan moral yang kuat bagi para inovator lokal untuk terus berkarya.
Langkah kedua adalah memperluas kategori kepesertaan untuk menjangkau semua kalangan. Penguatan budaya inovasi harus dimulai dari lingkungan pendidikan hingga masyarakat umum. Yusharto Huntoyungo menyarankan agar penyelenggaraan penghargaan inovasi dapat melibatkan lebih banyak pihak, mulai dari unit pelaksana teknis (UPT), sekolah, hingga kalangan pelajar. Pengenalan inovasi yang dilakukan sejak dini akan memperbesar peluang lahirnya inovator yang mampu memberikan solusi bagi persoalan pembangunan daerah. Keterlibatan anak-anak tingkat sekolah menengah pertama dalam kompetisi inovasi membuktikan bahwa generasi muda mampu menghasilkan temuan sederhana namun memiliki manfaat nyata bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar.
Tim 9 Kejagung Sita 38 Aset Senilai Rp846 Miliar Terkait Kasus Febrie Adriansyah

Langkah ketiga adalah mengakomodasi dan mengapresiasi inovasi non-digital. Banyak pihak yang masih menganggap bahwa inovasi harus selalu identik dengan pemanfaatan teknologi digital maupun aplikasi. Padahal, berdasarkan data BSKDN Kemendagri, jumlah inovasi non-digital justru masih lebih banyak dibandingkan dengan inovasi digital. Inovasi non-digital sering kali memiliki ruang pengelolaan yang sangat luas dan bersentuhan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu memberikan ruang yang setara bagi inovator non-digital, karena karya mereka terbukti mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan dan kualitas pelayanan publik.
Langkah keempat adalah bersinergi dengan kalangan akademisi dan profesional muda untuk menciptakan inovasi berkelanjutan. Dukungan terhadap mahasiswa terbukti membuahkan hasil positif, seperti yang ditunjukkan oleh mahasiswa Universitas Mercu Buana (UMB) yang sukses meraih Grand Prize pada Pekan Inovasi Nasional (PIN) Vol. 3 Tahun 2026 melalui inovasi BIO BRICK dan NADION. Selain itu, upaya mendorong inovasi juga dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan organisasi seperti IGCN yang menggelar SDGI 2026 khusus untuk mendorong inovasi berkelanjutan bagi profesional muda. Keterlibatan institusi pendidikan tinggi juga dapat dilihat dari komitmen Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) yang menggelar perayaan Dies Natalis ke-62 di Smart Auditorium Adikarsa Keteknikan, Kampus FTUI Depok, pada Jumat, 17 Juli.
Jaga Ketahanan Pangan, Luthfi Perketat Perlindungan Sawah di Jateng

Langkah kelima adalah memberikan pendampingan agar inovasi lokal dapat berkembang, direplikasi, dan berdaya saing di tingkat global. Inovasi yang lahir dari ajang penghargaan daerah diharapkan dapat direplikasi oleh daerah lain sehingga berkontribusi pada tata kelola pemerintahan yang lebih baik. Jika dibina dengan tepat, inovator dari Indonesia bahkan dapat mewakili negara di kancah internasional. Sebagai contoh keberhasilan di tingkat global, PT Petrokimia Gresik terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang UN Global Compact di New York. Dengan menerapkan langkah-langkah pembudayaan inovasi yang komprehensif, peluang untuk melahirkan inovator berprestasi dari berbagai daerah akan semakin terbuka lebar.






