Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus melakukan penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tengah melanda beberapa wilayah di Indonesia. Namun, pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dijalankan secara merata di seluruh daerah terdampak, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Modifikasi cuaca belum dapat dilakukan di Kalteng dan Kalsel karena tidak ditemukan bibit awan di kedua provinsi tersebut berdasarkan hasil pengamatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Padahal, pelaksanaan OMC sangat diperlukan untuk membantu proses pendinginan lahan terbakar, mendampingi langkah pemadaman yang terus diupayakan lewat jalur darat maupun pemadaman udara.
Pencarian 5 Jurnalis Liputan Gunung Anak Krakatau Dilanjutkan Besok

Sementara itu, di daerah-daerah yang terdeteksi memiliki potensi bibit awan, BNPB terus mengoptimalkan penyemaian bahan semai. Operasi modifikasi cuaca terbaru dilaksanakan melalui penyemaian garam pada Jumat (28/8/2026) pukul 16.00 WIB. Dalam operasi tersebut, total garam atau NaCl yang disemaikan mencapai 6.200 kilogram untuk lima wilayah prioritas, yakni Riau, Jambi, Kalimantan Barat (Kalbar), Sumatra Selatan (Sumsel), dan Lampung. Berkat pelaksanaan modifikasi cuaca tersebut, hujan telah turun di beberapa kabupaten di wilayah target penyemaian.
Mengenai perkembangan kondisi lapangan, titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah karhutla dilaporkan mengalami kenaikan. Peningkatan jumlah hotspot ini menunjukkan adanya peningkatan tingkat kekeringan di kawasan-kawasan tersebut. Di sisi lain, data titik api mencatatkan penurunan, yang menjadi indikasi bahwa rangkaian upaya penahanan dan pemadaman karhutla yang dijalankan tim satgas telah mulai menunjukkan hasil positif.
BPBD Buka Suara soal Semeru Erupsi Terus, Level III Sejak Setahun Lalu

Kendati titik api mulai berkurang, dampak sebaran asap masih menjadi perhatian pemantauan cuaca dan lingkungan. Berdasarkan data polutan yang dirilis BMKG, embusan angin terpantau membawa polutan karhutla dari wilayah Kalimantan bergerak ke arah utara, melintasi Sarawak, Malaysia, hingga mengarah ke Laut Cina Selatan.






