Pemerintah Kota Pontianak kembali memperpanjang kebijakan pembelajaran jarak jauh atau daring hingga sepekan ke depan. Kebijakan ini diambil menyusul kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengepung wilayah Kalimantan Barat.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyatakan bahwa aktivitas belajar tatap muka di lingkungan sekolah masih diliburkan demi melindungi kesehatan para siswa. Kebijakan belajar daring tersebut mencakup jenjang pendidikan TK, SD, hingga SMP sampai kondisi cuaca dan kualitas udara membaik. Pemerintah Kota Pontianak kini juga telah menetapkan situasi darurat kabut asap.
Langkah antisipasi ini difokuskan untuk menekan lonjakan penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data pemerintah setempat menunjukkan kasus ISPA di Pontianak telah menyentuh angka 300 kasus per hari.
Pencarian 5 Jurnalis Liputan Gunung Anak Krakatau Dilanjutkan Besok

Perpanjangan masa sekolah daring tidak hanya berlaku di lingkup pemerintah kota. Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Barat menerbitkan surat edaran tertanggal 29 Agustus 2026 yang menginstruksikan seluruh jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri maupun swasta se-Kalimantan Barat untuk tetap memberlakukan pembelajaran daring. Sepanjang Agustus 2026, proses belajar siswa dari rumah akibat kabut asap karhutla telah berlangsung selama tiga pekan.
Untuk pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak, kegiatan administrasi tetap berjalan di dalam ruangan dengan opsi bekerja dari rumah (WFH) bagi pegawai yang berada dalam kondisi sakit. Pemerintah daerah juga mengingatkan masyarakat agar membatasi mobilitas di luar ruangan serta selalu mengenakan masker saat harus bepergian.
BPBD Buka Suara soal Semeru Erupsi Terus, Level III Sejak Setahun Lalu

Kebijakan perpanjangan sekolah daring ini menuai respons dari pendidik dan orang tua siswa. Seorang wali murid, Ridha, menyambut baik langkah tersebut mengingat tingkat pencemaran udara dinilai sangat berisiko bagi keselamatan anak-anak. Di sisi lain, guru SD di Pontianak, Diana Cristy Nainggolan, menuturkan bahwa pengalihan metode pembelajaran selama lebih dari dua pekan akibat karhutla membuat proses belajar mengajar berlangsung kurang optimal.






