Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Selasa (8/9) tidak mengarah maupun melintasi wilayah DKI Jakarta.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan bahwa pengamatan meteorologi terkini memperlihatkan embusan abu dari aktivitas vulkanik tersebut tidak sampai ke area ibu kota. Menurutnya, potensi abu vulkanik yang melayang di udara saat ini sudah minim atau tidak terdeteksi menuju Jakarta.
"Hari ini itu juga meletus. Tetapi barangkali abu yang keluar sudah tidak ada lagi, sehingga kalau kita lihat daripada signification meteorologi arahnya itu tidak sampai ke Jakarta," ujar Guswanto di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Kronologi Rombongan Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Guswanto turut memaparkan catatan pemantauan pada erupsi beberapa hari sebelumnya, di mana pola pergerakan abu bervariasi tergantung ketinggian. Pada elevasi 50.000 kaki, material abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat. Sementara itu, pada lapisan 12.000 hingga 15.000 kaki, abu bergerak ke arah timur dan sempat memicu gangguan operasional di sejumlah bandara.
Badan Geologi Catat 8 Kali Erupsi Berdurasi Singkat
Dari sisi aktivitas kegempaan dan vulkanologi, Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami delapan kali erupsi sepanjang Selasa (8/9). Meski frekuensinya cukup banyak, letusan tersebut berlangsung sangat singkat dan tidak memicu kolom abu yang meluas jauh.
Kepala Badan Geologi Lana Saria menerangkan letusan tercatat hanya berdurasi antara 10 hingga 15 detik untuk setiap kejadian. Karakteristik erupsi yang pendek tersebut membuat lontaran abu vulkanik terlokalisasi di sekitar tubuh gunung saja.
Dua Drone Termal Dikerahkan Cari Rombongan Jurnalis di Selat Sunda

"Kita hari ini melihat ada sebanyak 8 kali, tetapi ini dalam rentang yang sangat pendek, hanya 10 sampai 15 detik. Jadi penyebarannya hanya di sekitar gunung saja," tutur Lana.
Lana menambahkan bahwa sebaran abu vulkanik akibat erupsi ini tidak melewati radius 3 kilometer. Otoritas terkait tetap mengimbau masyarakat dan nelayan untuk mematuhi zona bahaya dengan tidak memasuki kawasan dalam radius aman 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah Gunung Anak Krakatau.






