PT Allo Bank Indonesia Tbk dengan kode saham BBHI berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang stabil pada kuartal kedua tahun 2026. Perseroan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 130 miliar pada periode tersebut. Pencapaian ini menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan profitabilitas di tengah dinamika perekonomian yang ada. Angka perolehan laba bersih ini tercatat mengalami pertumbuhan yang positif dibandingkan dengan kinerja pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Apabila dirinci lebih lanjut, laba bersih yang diraih oleh perseroan pada kuartal kedua tahun 2026 ini tumbuh sebesar 14 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Pada kuartal kedua tahun sebelumnya, laba bersih setelah pajak yang dikumpulkan oleh perseroan tercatat sebesar Rp 114 miliar. Secara kumulatif, tren positif ini turut berkontribusi pada total keuntungan yang diperoleh selama paruh pertama tahun ini. Plt. Direktur Utama Allo Bank, Ari Yanuanto Asah, menyatakan bahwa secara keseluruhan, laba bersih Allo Bank mencapai Rp 234 miliar pada semester pertama tahun 2026, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resminya pada hari Jumat, 31 Juli 2026.
Menurut Ari Yanuanto Asah, pertumbuhan laba yang dicapai oleh perseroan ditopang secara langsung oleh peningkatan pada pendapatan operasional. Pendapatan operasional bank tercatat mengalami kenaikan sebesar 21 persen secara tahunan hingga mencapai angka Rp 533 miliar. Peningkatan pendapatan operasional ini bersumber dari dua komponen utama, yakni pendapatan bunga bersih serta pendapatan berbasis biaya yang berhasil dimaksimalkan oleh perusahaan selama periode kuartal kedua tahun 2026.
Breaking! BI Catat Utang Luar Negeri RI Tembus US$454,8 M di Juli

Kinerja dari sisi pendapatan bunga bersih perbankan tercatat mampu tumbuh sebesar 10 persen secara tahunan menjadi Rp 393 miliar. Sementara itu, pertumbuhan yang jauh lebih pesat terlihat pada pendapatan berbasis biaya perseroan. Pendapatan berbasis biaya tersebut melonjak hingga 71 persen secara tahunan menjadi Rp 140 miliar. Kondisi pertumbuhan ini didukung oleh penyaluran pinjaman yang tetap berjalan optimal meskipun di tengah kondisi makroekonomi yang dinilai cukup menantang bagi sektor perbankan.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan, indikator profitabilitas lainnya juga menunjukkan perbaikan. Margin Bunga Bersih pada periode kuartal kedua tahun 2026 tercatat mengalami peningkatan menjadi 10,9 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi Margin Bunga Bersih pada periode yang sama di tahun sebelumnya, yakni sebesar 10,4 persen. Peningkatan margin ini mencerminkan keberhasilan manajemen aset dan liabilitas yang efektif, terutama pada segmen Perbankan Ritel yang dikelola oleh perseroan.
IHSG Merosot 0,75 Persen ke Level 6.485 Pagi Ini

Dari sisi fungsi intermediasi, momentum penyaluran kredit juga menunjukkan tren yang sangat baik. Hingga akhir tanggal 30 Juni 2026, total kredit yang disalurkan oleh perseroan tumbuh sebesar 28 persen secara tahunan menjadi Rp 9,547 triliun. Pertumbuhan penyaluran kredit ini didorong oleh peningkatan kinerja pada segmen Perbankan Ritel maupun Perbankan Wholesale. Ari Yanuanto Asah memaparkan bahwa dengan pencapaian penyaluran kredit tersebut, total aset Allo Bank naik 10 persen secara tahunan dan mencapai Rp 15,571 triliun, naik dari Rp 14,173 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang berkelanjutan, perseroan tetap menunjukkan kedisiplinan dalam menjaga kualitas aset dan stabilitas kondisi keuangannya. Pengawasan kualitas aset terlihat dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang berada pada level terkendali. Rasio NPL Gross perseroan tercatat sebesar 1,73 persen, sedangkan rasio NPL Net berada di level 0,73 persen. Pada saat yang bersamaan, likuiditas bank juga terjaga dengan Dana Pihak Ketiga yang tetap stabil di angka Rp 5,826 triliun. Sebagai penutup, Ari Yanuanto Asah menegaskan bahwa selama tahun 2026, pihaknya akan mendorong pertumbuhan bisnis dengan meningkatkan pengalaman pengguna melalui inovasi teknologi sehingga nasabah akan mampu melakukan personalisasi untuk mendapatkan nilai tambah sesuai dengan kebutuhan nasabah.






