India resmi menggelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS pada 12–13 September. Pertemuan para pemimpin negara berkembang ini kembali menarik perhatian dunia setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mendarat di New Delhi pada Jumat pagi untuk menghadiri langsung agenda tersebut.
KTT ini berlangsung lebih dari enam bulan pascaserangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Iran sendiri resmi bergabung ke dalam aliansi ekonomi ini pada 2024 bersama Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, Mesir, Etiopia, dan Indonesia.
Dengan formasi 11 negara anggota, BRICS kini merepresentasikan kekuatan demografi dan ekonomi yang masif. Blok ini mencakup hampir separuh populasi dunia, menyumbang 40 persen dari total output global, menguasai 44 persen produksi minyak bumi dunia, serta menggerakkan sekitar seperempat volume perdagangan global. Dari sisi laju ekspansi, pertumbuhan ekonomi BRICS diproyeksikan mencapai 3,7 persen tahun ini, melampaui kelompok negara maju G7 yang tertahan di angka 1 persen.
RI Masuk 7 Negara Dunia yang Miliki Rencana Aksi Perikanan Skala Kecil

Tantangan Lembaga Keuangan dan Dinamika Internal
Kendati mencatatkan angka statistik yang dominan, jalan BRICS untuk sepenuhnya menyaingi tatanan Barat masih menghadapi tantangan nyata. Dibentuk pascakrisis keuangan global 2008, aliansi ini telah mendirikan Bank Pembangunan Baru (New Development Bank/NDB) sebagai institusi keuangan mandiri tanpa intervensi negara-negara Barat.
Namun, kapasitas pendanaannya masih terbatas jika disandingkan dengan lembaga seperti Bank Dunia atau IMF. Hingga akhir 2024, NDB tercatat baru menyetujui pendanaan sekitar US$ 39 miliar (sekitar Rp 690,3 triliun), dengan sebagian besar porsi pembiayaan masih dihimpun dalam denominasi dolar AS.
Trump Mulai Gerah, AS Biarkan Sekutu Jatuhkan Sanksi ke Israel

Di samping kesenjangan instrumen finansial, kohesi geopolitik di tubuh BRICS juga kerap diuji oleh kepentingan masing-masing anggota. Pada pertemuan menteri luar negeri BRICS bulan Mei lalu, forum berakhir tanpa menghasilkan pernyataan bersama akibat kebuntuan diplomasi antara Iran dan UEA. Kala itu, Teheran mendesak adanya kecaman terbuka terhadap aksi militer AS dan Israel, usulan yang kemudian ditolak secara tegas oleh pihak UEA.
KTT di New Delhi menjadi panggung krusial bagi anggota BRICS untuk membuktikan apakah konsolidasi kekuatan ekonomi mereka mampu diwujudkan menjadi kekuatan geopolitik yang solid atau masih tertahan oleh kompromi internal antaranggotanya.






